ARTIKELCATATAN DAHLAN ISKANPolitik Kabupaten SukabumiPolitik Kota Sukabumi

Sawo Tegalsari

×

Sawo Tegalsari

Sebarkan artikel ini
Dahlan Iskan
Dahlan Iskan/Net
Lambang itu ia sendiri yang mencari. Yang memilih. Buatan seorang perajin di Yogya.
Setelah cukup melihat pendopo, tentu, saya juga ingin melihat rumah kediaman Anies yang di bawah. “Boleh?” tanya saya.
Saya pun diajak menuruni tangga –di satu sisi pinggir joglo. Ujung bawah tangga itu jatuh di dekat kolam ikan yang tadi terlihat dari halaman joglo. Di dekat kolam itu giliran saya mendongak. Melihat dedaunan pohon di halaman joglo di atas sana.
Berada di basement ini tidak merasa di bawah tanah. Inilah basemen yang terhubung dengan halaman luas. Bahkan pandangan tidak terhalang apa pun –karena posisi rumah-rumah di sebelum sungai itu lebih rendah lagi. Mungkin ini memang tidak bisa disebut basement.
Ada ruang besar setengah terbuka di basement ini. Ada meja panjang dengan delapan kursi di sekelilingnya. Misalkan lagi makan di meja itu bisa melihat halaman luas di arah sungai.
Ada pula dua kamar tidur –kalau orang tua datang, tidur di situ. Atau kalau ada tamu keluarga dari Yogya.
Di ujung ruang besar ini ada koridor ke kanan. Menuju ruang keluarga. Kamar anak perempuan di seberang persis kamar tidur utama. Begitulah adat Jawa. Lalu ada tiga kamar untuk tiga anak laki-lakinya.
Ketika tiga anak itu masih kecil, tiga kamar itu masih berupa satu ruang tidur besar. Ketika yang satu sudah besar mulailah disekat. Yang besar di kamar tersendiri. Yang dua masih kecil jadi satu kamar. Ketika satunya lagi juga sudah mulai besar, ruang itu disekat lagi. Jadi tiga kamar tidur.
Dari empat anak itu yang dua lahir di Amerika.
Koridor ruang keluarga ini terhubung juga ke halaman luas. Itu halaman depan –kalau rumah basement ini dianggap menghadap ke arah sungai. Atau itu halaman belakang kalau posisi kita di joglo atas.
Meski tersambung, dari koridor ini tidak bisa melangkahkan kaki ke halaman. Kelihatannya menyatu, tapi terpisah. Dipisahkan oleh kolam ikan yang lebarnya hanya dua depa.
Saya harus sedikit memutar untuk bisa ke halaman. Saya pun berlama-lama di halaman. Sambil agak mendongak, menatap joglo. Indah sekali joglo itu. Di waktu malam.
“Kalau pagi banyak suara burung di sini,” ujar Anies.
Tentu. Saya lihat ada beberapa sangkar burung –digantung di pepohonan.
Di salah satu sudut halaman inilah garasi mobil Anies. Tidak terlihat. Tertutup pepohonan.
Ketika pamit saya tidak naik lagi lewat tangga. Saya pilih naik menelusuri jalan mobil yang agak menanjak. Lalu berhenti di lokasi biasanya Anies turun dari mobil –untuk masuk rumah dari samping.
Pintu masuk itu serbakayu. Kayu bekas. Kayu kuno. Yang coraknya dibiarkan telanjang. Yang lubang-lubang kayunya ditutup dengan kayu. Tidak dihaluskan, apalagi dicat. “Seluruh bahan bangunan rumah ini tidak ada yang buatan pabrik,” katanya. “Kecuali lubang kunci dan engsel,” tambahnya.
Pun lantainya. Terbuat dari semen yang dihaluskan dengan tangan –sangat halus, mengilap. Bukan keramik atau tegel tapi hampir tidak kalah halus dengan keramik. “Biayanya mungkin sama. Tidak lebih murah. Tapi komponen untuk tukang, lebih besar daripada harga semen dan campurannya,” katanya. “Kalau saja dipasangi keramik, komponen terbesarnya untuk membeli keramik dari pabrik,” tambahnya.
Tentu semen itu buatan pabrik. Maksudnya, bukan beli bahan jadi. Lemari dibuat. Meja dibuat. Dinding dibuat.
Saya pun kembali ke halaman joglo. Posisi saya sudah kembali di lantai atas. Tinggal satu lagi agenda saya: melihat pohon sawo kecik. Anies harus menanamnya di halaman joglo itu.
Harus?
Dulu, ketika masih di Tegalsari, joglo ini dijaga oleh pohon sawo kecik. Sekarang pun harus ada yang menjaganya. Hanya saja makna pohon kecik di Lebak Bulus ini sudah berbeda. Anies menanamnya sebagai pengingat. Sedang aslinya, pohon sawo kecik di Tegalsari itu sebagai penanda politik.
Beginilah kisahnya: –jangan-jangan Anda sendiri sudah tahu. Begitu Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda (1830), pengikutnya bercerai berai. Tapi hati mereka tetap satu: menunggu Diponegoro pulang. Lalu bertekad akan bersama-sama lagi bertempur melawan Belanda.
Sangkaan mereka, Diponegoro lagi dinaikkan haji. Begitulah yang dikatakan Belanda: Diponegoro dibawa ke Jakarta untuk seterusnya akan diberangkatkan ke Makkah. Mereka tidak tahu bahwa Diponegoro dibuang ke Tondano, dekat Manado –kecuali mereka yang menyertainya.
Di saat para pengikut tercerai-berai itulah mereka sepakat untuk memiliki penanda seperjuangan: menanam pohon sawo kecik di halaman rumah masing-masing.
Yang mengungsi ke Tegalsari pun menanam pohon itu di dekat joglo.