Musim Panas

Dahlan Iskan
Dahlan Iskan

Oleh: Dahlan Iskan

JEPANG ”menyerah”: akan menghidupkan lagi semua pembangkit listrik tenaga nuklirnya. Yang 14 reaktor itu. Krisis listrik memburuk di sana. Apalagi di saat memasuki musim panas sekarang ini.

Bacaan Lainnya

Kita hanya tahu rakyat Jepang itu enak. Makmur. Tapi kita tidak ikut merasakan bagaimana mereka harus sangat hemat listrik. Dan itu harus dilaksanakan dengan sangat disiplin.

Saya punya tamu dari Jepang pekan lalu. Ia bercerita soal bagaimana rakyat harus sangat hemat listrik di sana –seperti bukan negara kaya saja.

Sewaktu ia bercerita, saya langsung melirik lampu-lampu di sekitar ruang tamu. Saya khawatir masih ada yang menyala di siang bolong. Saya tidak mau ia berkata dalam hati: ini di negara yang diutangi malah tidak mau hemat listrik.

Listrik di Jepang sudah telanjur sangat tergantung pada nuklir. Sampai 30 persen. Maka begitu ada kecelakaan pembangkit nuklir di Fukusima 11 tahun lalu semua pembangkit nuklir dimatikan. Emosi masyarakat sangat tinggi: anti nuklir.

Ternyata, tanpa nuklir, renewable energi belum bisa mengatasi. Demi bebas nuklir rakyat Jepang pilih mau diajak ”menderita listrik”.

Tapi ekonomi tidak bisa jalan tanpa listrik. Listrik adalah darah bagi kehidupan ekonomi.

Sebenarnya Jepang sudah memeriksa ulang seluruh pembangkit listrik nuklirnya. Semua aman. Mestinya tidak apa-apa tetap dijalankan.

Bahwa terjadi bencana di Fukushima itu benar-benar kecelakaan. Tsunami di Fukushima hari itu keterlaluan. Tinggi gelombangnya sampai 9 meter. Sejarah tsunami mencatat gelombang tertinggi hanya 6 meter.

Reaktor nuklirnya sendiri sebenarnya tidak apa-apa. Kuat. Tapi pemasok listrik cadangannya terkena tsunami. Harusnya ”genset” itu diletakkan di tempat yang tinggi –sebagai antisipasi tsunami yang di luar perhitungan.

Memang, kecelakaan nuklir sangat mengerikan. Biar pun tidak ada yang meninggal akibat kecelakaan nuklir di Fukushima. Memang belakangan ada satu orang yang meninggal.

Di tahun 2018 – -tujuh tahun setelah kecelakaan Fukushima. Orang itu meninggal karena sakit paru. Lalu dicarikan hubungannya dengan Fukushima. Ketemu. Diindikasikan sakitnya itu akibat terpapar radiasi. Lalu orang-orang yang meninggal setelah itu juga dikaitkan dengan radiasi Fukushima.

Pun kalau saya kelak meninggal dunia: jangan-jangan juga karena saya pernah ke kawasan PLTN Fukushima setelah kecelakaan itu terjadi.

Debat penyebab kematian itu bisa panjang. Tapi dampak kekurangan listrik akan lebih panjang. Maka keputusan menghidupkan kembali pembangkit nuklir terpaksa dilakukan. Pemerintah sudah memeriksa ulang kesehatan pembangkit itu. Berulang-ulang. Selama 11 tahun terakhir.

Jepang telah menjadi kenyataan baru bahwa renewable energi belum bisa banyak berbuat.

Belum lagi kalau dilihat dari kenaikan harga batu bara: tiga kali lipat. Bagaimana bisa bahan bakar yang dihujat habis-habisan itu justru kian jadi rebutan. Termasuk di negara yang begitu getol mempersoalkan sisi buruk batu bara.

Kian disadari bahwa tenaga angin sulit diandalkan: angin-anginan. Kadang angin terlalu kencang –merusak kincir. Lebih sering lagi: tidak ada angin. Padahal Anda tidak bisa diberi pengumuman jenis ini: maafkan listrik mati karena lagi tidak ada angin. Lalu Anda pun melongok ke luar jendela: oh iya daun-daun pun tidak bergoyang.

Memang terus ditemukan bilah-bilah ajaib. Di kecepatan angin 1 m/menit pun bilah kincir sudah bisa memutar.

Ditemukan juga kincir susun. Satu tiang bisa dipasangi banyak kincir. Ada lagi cara-cara lain dalam menempatkan kincir. Atau model baru kincir. Tapi belum satu revolusi. Efisiensi pembangkit tenaga angin tetap saja masih jauh dari memadai: sekitar 16 persen.

Masih harus ditunggu: lahirnya teknologi baterai yang kapasitas besar dengan harga murah. Ketika angin kencang hasil listriknya disimpan. Dipakai ketika lagi tidak ada angin.

Pos terkait