ARTIKEL

Kolaborasi Media dengan Pemerintah: Perkuat Narasi Informasi

×

Kolaborasi Media dengan Pemerintah: Perkuat Narasi Informasi

Sebarkan artikel ini
kang-warsa

Yellow Journalism sudah cukup menjadi bagian dari sejarah jurnalistik. Sebuah masa ketika media dijadikan alat propaganda dan menampilkan pseudo-science (sains palsu). Yellow Journalism mulai  dikenal di Amerika serikat, bersumber pada persaingan dua wartawan pada pertengahan tahun 1890-an, yaitu Joseph Pulitzer dari harian New York World dan William Randolph Heartz dari harian New York Journal yang sering menulis menggunakan tinta berwarna kuning.

Bank bjb Tandamata

Pada puncak persaingan keduanya, kedua harian tersebut telah dikritik oleh publik setempat karena berita yang dimuatnya sering dibuat bombastis dan sensasional walaupun sebenarnya biasa saja. Hal itu dilakukan kedua belah pihak untuk meningkatkan oplah mereka.

Jurnalistik secara konvensional, berarti menginformasikan secara utuh suatu fakta secara apa adanya. Kata kunci dari jurnalistik adalah kebenaran (truth). Ia pun harus memihak kepada publik dan imparsial (tidak memihak).

Dalam kaidah jurnalistik, seorang jurnalis harus menyampaikan fakta sesuai dengan apa yang disaksikan, tanpa harus menghakimi terhadap fakta tersebut berdasarkan opininya. Ketika seorang jurnalis melihat tangan seorang laki – laki dewasa merogoh tas seorang perempuan di atas bus kota, maka seorang jurnalis haruslah menulis apa adanya, karena belum tentu laki – laki tersebut adalah seorang copet.

Bagi pemerintah, kolaborasi dengan media dalam bentuk dialog dua arah merupakan sarana yang efektif untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik. Pemerintah dapat merespons lebih cepat terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang terbaca dari pemberitaan media.

Kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Sukabumi akan baik dan relevan jika didukung oleh data yang baik. Di sini, media memainkan peran penting untuk menyuplai data-data bersifat  bottom-up yang bersumber dari wilayah.

Ke depan, media di Kota Sukabumi memang harus memfokuskan juga pada konten bergenre fitur, investigasi utuh, dan memunculkan hasil-hasil riset secara berkala. Sebagai contoh, media dapat memastikan tingkat kebahagiaan masyarakat Kota Sukabumi terhadap kebijakan yang telah diterbitkan oleh pemerintah.

Apakah infrastruktur yang telah dibangun oleh pemerintah kota telah mengubah pola dan cara hidup masyarakat? Apakah kehadiran pedestrian memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku masyarakat, misalnya masyarakat menjadi lebih gemar berjalan kaki di waktu senggang dari pada menggunakan kendaraan bermotor? Isu-isu seperti ini akan terjawab melalui investigasi dan riset media. Media yang memiliki akurasi data dapat menjadi rujukan pemerintah dalam mengambil kebijakan.

Kolaborasi dengan media adalah langkah strategis dalam membangun citra positif tentang Kota Sukabumi. Dengan informasi yang transparan dan dapat dipercaya, masyarakat akan merasa lebih yakin terhadap kebijakan dan program yang dijalankan oleh pemerintah.

Media yang bekerja sama dengan pemerintah akan memberikan pemaparan yang komprehensif mengenai pencapaian dan inisiatif pemerintah, sehingga masyarakat dapat menghargai dan mendukung upaya-upaya pembangunan yang dilakukan di Kota Sukabumi. ***