Tiba di Kuala Lumpur kami langsung ke Ritz Carlton. Bermalam di situ. Agar dekat dengan Bukit Bintang –Orchard Road-nya Kuala Lumpur masa kini. Hidup sekali. Lebih hidup dari yang di Singapura. Sambil kya-kya di Bukit Bintang, saya tergoda bertanya ke diri sendiri: di mana ya di Jakarta bisa kya kya seperti ini.
Setelah bertemu Anwar Ibrahim –dan beberapa relasi– keesokan harinya kami balik ke Singapura. Lewat jalan yang sama. Tidak ada lagi hadiah Lebaran dari negara.
Saya pun bisa mencatat tagihan tol sepanjang 414 km itu. Tidak untuk dibanding-bandingkan.
Dari Kuala Lumpur ke pintu tol Johor Bahru 32 ringgit.
Dari situ ke Jembatan Tuas 3 ringgit.
Tol jembatan Tuas 6 ringgit. Hasilnya tentu dibagi dua dengan Singapura.
Total: Anda sudah tahu.
Hari itu pun kami merasa dirugikan Malaysia 39 ringgit. Saat berangkatnya dulu kami tidak merasa untung 39 ringgit.
Begitulah fitrah manusia. Setelah Idul Fitri. Sulit berterima kasih. Sulit juga mencatat jasa orang lain.
Tentu Meiling tidak perlu lagi memukul pundak saya. Lain kali. Aturan wajib PCR itu barusan dihapus. Presiden Jokowi sendiri yang menghapus. Sekalian dengan no masker di luar ruang.
Di Indonesia, peraturan baru itu banyak dibaca: bebas masker. Di mana pun.(*)





