ARTIKELCATATAN DAHLAN ISKAN

Dhania Eliezer

×

Dhania Eliezer

Sebarkan artikel ini
Dahlan Iskan
Dahlan Iskan

Ichad –nama panggilan Richard Eliezer Pudihang Lumiu– awalnya sudah pasrah: ia pasti dihukum mati. Karena itu ia sudah minta agar maituanya pulang ke Manado. Jangan lagi berharap bersuamikan dirinya.

Bank bjb Tandamata

Ichad tidak berani mengaku bahwa penembakan itu akan perintah Sambo, atasannya. Ia di bawah tekanan. Sebagai polisi dengan pangkat terendah apalah artinya di depan seorang jenderal bintang dua Sambo.

Roy setuju hukuman pada Ichad diperingan. Tapi tidak sedramatis itu. “It’s unfair. Bisa jadi preseden buruk. Anak buah tutup mata, tutup akal, tutup nurani, saat menerima perintah atasan. Termasuk untuk melakukan kejahatan berat seperti pembunuhan berencana,” ujar Roy.

Ichad dua kali gagal tes masuk polisi. Ia melamar lagi: untuk pangkat lebih rendah, paling rendah. Berhasil. Ia seorang pendaki gunung, perenang tangguh dan guru pendaki tebing.

Kali ini tebingnya terlalu terjal. Tapi  masih bisa didaki. Tak lama lagi ia sudah bisa meloncati dinding itu: semoga saja, Lily, maituanya, masih menanti di balik dinding itu. (Dahlan Iskan)