Rahasia itu akan ia wariskan ke anaknya. Kelak. Si sulung masih ingin bekerja dulu sebagai pemandu wisata. Di Jepang. Lalu ingin jadi pemandu wisata di Eropa. Untuk turis Jepang. Setelah puas dengan itulah. Baru akan meneruskan usaha bapaknya. Kira-kira 15 tahun lagi. Khas orang Jepang: punya perencanaan jangka panjang.
Saya menghormati kerahasiaan Rustono akan raginya. Tidak apaapa. Mengapa? Ia tidak tahu: saya bisa bikin ragi itu. Dulu. Saat masih kecil di desa. Mudah sekali. Dan cepat sekali. Rasanya, dulu, saya selalu membuat ragi sendiri. Dari tempe yang ada. Kalau belum lupa.
Apakah sukses Rustono ini ‘sukses kebetulan’?
Kebetulan karena ada wartawan lewat di depan rumahnya?
Kebetulan itu di musim salju?
Kebetulan wartawannya tiba-tiba tertarik memotretnya?
Kebetulan Rustono lagi iseng dengan menjawab sekenanya: lagi membangun mimpi?
Kebetulan wartawan itu dari koran besar?
Saya tidak setuju dengan ‘teori kebetulan’ itu.
Sama dengan saat wartawan saya dulu memenangkan hadiah foto terbaik dunia: Sholehuddin. Anak Kediri. Yang memotret ini: truk militer bermuatan penuh supporter Persebaya. Terlalu penuh. Sampai truk itu dalam posisi hampir terguling. Roda sebelahnya sudah terangkat tinggi. Banyak supporter yang tumpah dari truk itu. Terlihat kepanikan supporter. Terlihat kepanikan sopirnya. Yang pakai seragam tentara.
Foto itu jadi juara dunia. World Press Photo. Dengan keputusan dewan juri secara aklamasi. Tanpa perdebatan. Jarang sebuah foto langsung terpilih dengan cara itu: aklamasi. Banyak wartawan yang berpendapat: itu foto kebetulan. Sholehuddin kebetulan ada di dekat lokasi. Momentumnya kebetulan pas supporter itu tumpah ke samping. Kebetulan hasilnya tidak kabur.



