CATATAN DAHLAN ISKAN

Green Street Itu Bernama Ryomyom

×

Green Street Itu Bernama Ryomyom

Sebarkan artikel ini

Di satu bagian museum itu ada gedung bundar. Diorama perang. Kita duduk diam di bangku. Lampu dimatikan. Muncul suara bom. Dan sinar dari ledakan bom itu. Itulah awal Perang Korea. Di tahun 1950. Pesawat Amerika menjatuhkan bom di Taejon. Dekat Seoul. Di waktu subuh. Fajar menyingsing. Diorama itu menjadi seperti suasana pagi. Di pedesaan. Di pegunungan.

Kita lupa kalau lagi berapa di dalam gedung. Kita seperti berada di planetarium. Lantai yang kita duduki berputar pelan 360 derajat. Adegan pertempuran terjadi seperti sungguhan. Semua foto pahlawan dipajang di museum itu. Saya kira militer akan bangga pada museum ini. Rakyat juga mengagumi cara penyajiannya. Di bidang ekonomi hampir tidak ada yang tahu: Kim Jong-Un mulai membenahi sistem perbankan. Sudah 30 bank yang mulai disesuaikan dengan sistem perbankan modern.

Bank bjb Tandamata

Rakyat sudah diperbolehkan menabung di bank. Dengan mendapat bunga tabungan 5 persen/tahun. Kim Jong-Un mengijinkan dimulainya persaingan antar 30 bank itu. Dalam menambah nasabah. Dan dalam memberi bunga. Ada yang sudah berani memberi bunga 7 persen. Di bidang telekomunikasi ternyata juga sudah mulai terbuka: rakyat boleh punya smartphone. Dengan jaringan 3G. Sudah ada iklan untuk mempromosikan 3G.

Pembangunan dua jalur jalan tol juga sedang disiapkan. Yang 50 Km dan 800 Km. Hanya saja masih sulit merumuskan bagaimana penarifannya. Agar sejalan dengan ideologi Juche. Semacam ideologi komunisme ala Korut. Manusia adalah tuan bagi dirinya sendiri. Rakyat sudah terbiasa serba gratis. Atau serba sangat murah. Bagaimana harus menghadapai jalan tol.

Rumah gratis. Sekolah gratis. Ke dokter gratis. Naik bus kota hanya bayar setara dengan Rp 75. Tujuh puluh lima rupiah. Segitu juga tarif kereta bawah tanah. Saya juga banyak ditanya soal sistem penarifan listrik. Yang tidak memberatkan rakyat. Yang tidak bertentangan dengan Juche-isme. Selama ini rakyat mendapat listrik 450VA. Dengan hanya membayar Rp 7 ribu untuk tiga bulan.

Saya pun melihat fenomena modern. Saat ke kota kecil Kaesong. Dekat Pamunjom: ada orang membawa solar panel di sepedanya. Ternyata memang lagi musim solar panel di kota itu. Saya mendongak ke atas. Ke gedung-gedung tinggi itu. Di jendela-jendela apartemen mereka itu terlihat tambahan solar panel. Itu menunjukkan kebutuhan listrik yang meningkat. Juga menunjukkan mulai ada daya beli. Menandakan rakyat di kota kecil itu mulai tidak puas. Dengan jatah listrik yang 450 kV.