Menurut Dedi Mulyadi, lotek harus mulai dibuat oleh tangan-tangan terampil koki internasional. Dirinya siap mendorong kesejajaran antara salad dan lotek.
“Saya bertekad mendorong lotek agar dikenal masyarakat luas. Ke depan, penyajiannya harus sempurna dan dilakukan oleh tangan-tangan terampil,” ujarnya.
Sumbang saran terkait penyajian dan pemasaran itu disampaikan oleh pria yang lekat dengan iket Sunda berwarna putih itu kepada Mak Namih (54). Dia merupakan seorang pedagang lotek di desa setempat dengan omset Rp150 ribu sehari.
Di tempatnya berjualan, Dedi Mulyadi membuat lotek sendiri tanpa bantuan Mak Namih. Dia menikmati lotek buatannya sambil berbincang dengan sang pedagang.
“Makanan apa sih yang sekarang tidak digemari kalau penyajiannya bagus?. Kalau penyajian dan penataannya sempurna, saya yakin lotek bisa bersaing,” katanya.
Soal kuliner, Purwakarta sebagai kabupaten yang pernah dipimpin oleh Dedi Mulyadi selama dua periode sudah berhasil membranding sate maranggi.



