“Program ini merupakan pengembangan yang telah diinisiasi oleh Kadarohman, A., dkk. pada 2017 lalu, termasuk dosen kimia UMMI yang dilakukan di daerah Cicalengka Kabupaten Bandung,” ujar Lela Lailatul Khumaisah kepada Radar Sukabumi, Kamis (26/9).
Setelah itu dilakukan pemanfaatan tanaman Mentha Arvensis dan minyak atsiri lain, sebagai kajian ilmu dan perluasan program pengabdian kepada masyarakat khususnya para petani di Desa Sukaresmi Cisaat dan Desa Sasagaran Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi. Tujuannya untuk mengendalikan hama padi terutama tikus.
“Sehingga kesinambungan program ini di masa mendatang akan tetap terjaga dan semakin meluas, mengingat dampak yang dapat diperoleh masyarakat cukup besar, ” terang Lela yang saat itu mengikuti penelitian tersebut.
Dijelaskannya bahwa program tersebut dilakukan mulai dari budidaya tanaman minyak atsiri.
Minyak tersebut berpotensi sebagai pestisida nabati, terutama tikus sebagai tanaman sela tanaman padi sampai memproduksi minyak atsirinya. Dengan begitu diharapkan akan memperoleh keuntungan ganda, yaitu pembasmian hama padi dan tanaman minyak atsiri.
Dalam pelaksanaannya digunakan demplot untuk uji coba dan pengaplikasian ilmu kimia minyak atsiri dalam bidang pertanian, serta produksi tanaman minyak atsiri.
“Selain berupaya untuk menanggulangi hama padi, dari hasil pendampingan program ini akan dihasilkan beberapa jenis tanaman minyak atsiri yang merupakan komoditas ekspor Indonesia,” ulasnya.
Harapan di masa yang akan datang, para petani di Desa Sukaresmi Cisaat dan Sasagaran Kebonpedes dapat mengembangkan program ini secara lebih luas, agar mampu menjadi sentra penghasil tanaman minyak atsiri.
“Dengan begitu ketersediaan komoditas ini akan terus terjaga mengingat kebutuhan dunia akan minyak atsiri semakin meningkat,” pungkasnya. (wdy)






