Puluhan Pelajar Ikuti Simulasi Bencana

SUKABUMI – Puluhan siswa dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Pesantren Unggulan Albayan Putri, mengikuti simulasi penanggulangan bencana gempa bumi, di komplek Yayasan Bina Ummat Sejahtera, Jalan Raya Selabintana, Desa Karawang, Kecamatan Sukabumi, belum lama ini.
Kegiatan simulasi bencana kepada para pelajar ini merupakan kerjasama Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sukabumi dan Badan Penanggulanagan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi.

Pembantu Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Pesantren Unggul Al Bayan Putri, Khusnul Khotimah, mengatakan, pihak sekolah sengaja mengadakan kegiatan simulasi tersebut, mengingat belakangan ini bawha di Sukabumi kerap terjadi bencana gempa. “Sebab itu, para siswa telah diberikan pendidikan tentang kesiapsiagaan bencana mulai sejak dini. Hal ini, supaya para siswa tidak panik saat terjadi bencana. Mereka nanti, bisa membuat jalur evakuasi di sekolah serta menyelamatkan diri dan juga mampu meminimalisir dampak dari bencana tersebut,” Khusnul Khotimah.

Masih di tempat yang sama, salah satu siswi Kelas X MIPA 6, Siti Aulia Arinindita, menjelaskan, bahwa dirinya merasa senang bisa belajar tentang simulasi bencana gempa di sekolahnya. Sebab, ia menilai jika terjadi gempa, mayoritas mereka terus dihantui kepanikan. Sehingga mereka tidak mengetahui apa yang harus dilakukanya. “Biasanya, kalau ada gempa. Kami suka panik dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya, melalui simulasi bencana gempa ini jadi tahu langkah-langkah yang harus dilakukan. Misalnya, Kalo terjadi gempa di kelas kita jangan panik. Tetapi, harus tenang dan lindungi kepala serta berlindung di bawah meja belajar. Selain itu, kami juga harus mengikuti arahan guru jika harus lari ke tempat terbuka,” jelasnya.

Fasilitator PMI Kabupaten Sukabumi, Aris Munandar mengatakan, pendidikan kebencanaan berbasis di sekolah ini, sangat penting dilakukan di setiap sekolah. Apalagi Kabupaten Sukabumi merupakan daerah rawan bencana alam. “Melalui simulasi bencana ini, anak diharapkan bisa mengetahui kesiapsiagaan bencana di sekolah dan bisa melakukan evakuasi mandiri jika terjadi bencana,” katanya.

Saat ini, ujar Aris, para siswa yang tengah belajar di sekolah kerap menjadi korban atau belum bisa menyelamatkan diri sendiri jika terjadi bencana. Seperti peristiwa yang terjadi di Kecamatan Kabandungan saat terjadi gempa yang bersumber dari Lebak Banten. “Tidak sedikit para siswa yang ada di Kecamatan Kabandungan yang menjadi korban akibat bencana gempa bumi. Untuk itu, simulasi dinilai merupakan salah satu cara yang tepat untuk memberikan pendidikan tentang kesiapsiagaan bencana di sekolah,” pungkasnya. (cr13/e)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *