“Maka ada dalam bagaimana tentang konsentrasi program studi kopi, kopi itu kan dari bagaimana cara menanam kopi yang baik, bagaimana dari hulu kan. Bagaimana nanti set plantiationnya itu, bagaimana nanti hilirnya,” kata Nasir.
Untuk mengembangkan inovasi dalam menciptakan prodi, Nasir memberi kebebasan kepada universitas. Kini, kampus bisa dengan mudah mengajukan pembukaan prodi baru tanpa nomenklatur, selama bisa menghasilkan lulusan yang terserap industri.
“Ini sudah saya cabut peraturan ini, sudah diganti peraturan baru. Silakan itu para program studi akan dibuka, tetapi harus lihat pada siapa demand-nya, jangan sampai mencetak tenaga kerja penganggur, tapi mencetak tenaga kerja yang profesional pada bidangnya yang diinginkan industri,” paparnya.
Adapun prodi kekinian yang sudah ada, di antaranya Prodi Pengelolaan Perkebunan Kopi, Prodi Film, Prodi Teknologi Pulp dan Kertas, Prodi Informatika Medis, Prodi Teknik Mekatronika dan Prodi Sains Data.
Kemenristekdikti juga memberikan rekomendasi kepada perguruan tinggi untuk membuka prodi visioner Sains Perkopian, Prodi Ekonomi Perkopian, Pendidikan Barista, Prodi Seni Meme.
(yes/JPC)





