Hal senada juga dirasakan oleh Arema FC. Lewat General Manajer Rudy Widodo, Singo Edan -julukan Arema- sudah mengirimkan surat resmi beberapa waktu yang lalu. Tidak hanya sekali, surat itu dikirim dua kali karena tidak kunjung mendapat jawaban.
Dia berharap surat yang dikirimnya segera direspons. Sebab, uang subsidi itu sangat dibutuhkan untuk membayar gaji pemainnya musim lalu. ”Ya kami akhirnya berutang kepada pemain gara-gara dana yang tertunda ini,” tuturnya.
Tim yang terdegradasi musim lalu Semen Padang juga masih menanti uang subsidi yang masih nyantol di PT LIB. Masih belum dibayar. Padahal, Manajer Semen Padang Win Benardino sangat ingat bahwa PT LIB meyakinkan uang itu akan segera dibayar ke kontestan Liga 1 musim lalu pada akhir musim lalu. ”Tapi nyatanya sampai sekarang tidak ada kejelasan. Kok seperti ini, itu kan hak kami,” katanya.
Apalagi, musim depan Semen Padang membutuhkan dana yang segar untuk mengarungi kompetisi Liga 2. Dia ingin membentuk tim yang matang dengan pemain berkualitas yang dibeli dari hasil dana subsidi tersebut. ”Target kami promosi lagi ke Liga 1. Kalau ditunda-tunda terus, yang rugi ya tim,” jelasnya.
Nah, gaji pemain yang belum dibayar juga dirasakan oleh Persegres Gresik United. Bahkan, Kebo Giras -julukan Persegres- hampir seluruh pemainnya musim lalu tidak mendapatkan gaji selama 4 bulan. Hanya menggantungkan nasib pada belas kasihan subsisi operator liga membuat Persegres sekarat sepanjang musim lalu.
Sekretaris Persegres Hendra Febri menegaskan timnya malah belum menerima sepeser pun dari tiga termin yang dijanjikan dibayar pada akhir musim. Jika tim lain menerima termin pertama sejumlah sekitar Rp 600 jutaan, hanya Persegres yang belum cair. ”Masalahnya dana itu benar-benar untuk bayar gaji pemain. Kalau tidak dibayar, pemain ya tidak gajian,” katanya. (rid/gus/nia)





