Selain Berry, Sukabumi juga punya Pramudya yang sudah menembus pelatnas. Saat ini Pramudya sukses menembus Pelatihan Nasional (Pelatnas) sebagai atlet Magang. Atlet taruna akhir itu menjadi bibit unggul yang jadi tumpuan Indonesia beberapa tahun ke depan.
Potensi atlet Sukabumi semakin cerah seiring berkembangnya pembinaan di tingkat klub. Menurut Yusuf, pola pelatihan di klub kini sudah tepat. Salah satu klub bulutangkis kenamaan Sukabumi, Icuk Sugiarto Training Camp (ISTC) menjadi klub dengan pelatihan terbaik. Selain ISTC, beberapa klub lain juga semakin sering memunculkan nama atlet potensial. Bukan hal yang mustahil, Sukabumi bisa menyumbang nama-nama atlet di tingkat pelatnas sekalipun.
Di sisi lain, problematika finansial dianggap Yusuf jadi kendala terbesar atlet Kota Sukabumi. Yusuf tidak menampik bulutangkis memang olahraga yang memakan biaya yang banyak. Mulai dari peralatan hingga biaya latihan dapat menguras dompet atlet.
“Saya akui memang bulutangkis itu bukan olahraga yang murah. Kadang, anak sudah semangat sekali latihan tapi tidak dibarengi keuangan yang stabil sehingga putus di tengah jalan. Kalau dibandingkan, di Bandung itu dalam sebulan biaya latihan atlet bisa sampe tiga juta, itu standar bagi mereka. Sementara di Sukabumi, kalau biaya latihan satu juta aja isitlahnya orang tua sudah eungap lah,” Terang Yusuf.
Kendati seperti itu, Yusuf dan rekannya terus mencari formula terbaik pembinaan atlet di Kota Sukabumi. Klub Bulutangkis yang jadi gerbang pertama atlet berlaga di berbagai kompetisi terus dipantau untuk menemukan bibit terbaik atlet bulutangkis Kota Sukabumi.
(pkl)




