Kini segala sesuatu yang mungkin tak pernah dia kerjakan tersebut, terpaksa harus dia lakukan sebagai konsekuensi menjadi ‘pasien KPK’. “Pagi setelah makan kita cuci piring, suruh nyapu ya nyapu,” kata Novanto.
“Saya juga bantu-bantu ngepel saja,” imbuhnya.
Dengan kondisinya seperti ini, Novanto mengibaratkan dirinya sebagai anak kos dan rakyat jelata. “Sekarang kan jadi anak kos, kan. Sekarang rakyat jelata, tapi makannya sama-sama,” sebut Novanto.
Dari hal yang dialaminya saat ini, tampaknya hal ini Novanto jadikan sebagai pelajaran yang berharga bagi hidupnya. Sebagai bentuk pendekatan dirinya kepada Tuhan, dia pun mengaku tengah mempertebal keimanannya dengan cara belajar membaca Alquran, suatu kegiatan yang mungkin jarang dia lakukan karena kerap disibukkan oleh pekerjaannya sebagai pimpinan anggota dewan. “Saya lagi belajar (Alquran), semua saya pelajari,” urainya.
Sementara itu, untuk menjaga kebugaran dan penampilannya, Novanto mengaku kerap bermain bola pingpong dan memotong rambutnya, meskipun tidak rutin dan di salon mewah seperti sebelum dia dipenjara. “Ada tukang cukur pinggir jalan gitu, ada yang mangkal. Saya makasih bisa potong rambut sebulan sekali, biasa saya potong dua minggu sekali,” sebut Novanto.
Kini, perlahan Novanto tampak sudah menikmati hidupnya, meskipun itu hal yang tak pernah dibayangkan dan diinginkannya. Untuk mengusir penatnya persidangan lanjutan perkara dugaan korupsi yang diduga merugikan keuangan negara sebesar Rp 2,3 triliun yang memakan waktu lama, Novanto sesekali mengarahkan pandangan matanya ke pujaan hatinya.
Senyuman hangat pun kembali dilontarkan oleh Deisti kepada pria yang telah memberikannya dua orang anak. Kepada awak media, Deisti mengaku Novanto tidak banyak menceritakan soal kasus yang dijeratnya, hanya kabar baik yang selalu diungkapkan Novanto kepada istrinya itu. “Enggak (pernah cerita kasus) bapak sih, selalu memberikan yang positif saja. Supaya kita tenang di luar sana,” tukas Deisti.(ce1/rdw/JPC)





