NASIONAL

Rotan Ini Menari Bak Ular, Bikin Merinding

×

Rotan Ini Menari Bak Ular, Bikin Merinding

Sebarkan artikel ini

BALI, RADARSUKABUMI.com – Pementasan Tarian Sang Hyang Penyalin menjadi magnet dalam acara pembukaan Twin Lake Festival VI, Rabu sore (3/7/2019).

Tarian sakral ini menjadi tontonan tamu undangan dan pengunjung. Mereka diberikan kesempatan menjajal kesakralan dari penyalin (rotan) yang dijadikan sebagai media utama tarian Sang Hyang Penyalin.

Bank bjb Tandamata

Kepapa Kejaksaan Negeri (Kajari) dan Komandan Kodim (Dandim) pun diberikan kesempatan untuk menjajal penyalin (rotan) yang memiliki kekuatan magic tersebut.

Tarian Sang Hyang Penyalin dipentaskan sekitar pukul 17.00 Wita. Sesuai namanya, tarian Sang Hyang Penyalin ini
menggunakan Penyalin (rotan) sebagai media utamanya.

Rotan ini memiliki kekuatan magis yang di luar nalar. Karena bergerak-gerak sendiri tanpa harus dikomandoi saat
dipegang oleh penari.

Ritual pementasan tarian Sang Hyang Penyalin tak boleh sembarangan. Sebelum dipentaskan, Sang Htang Puspa Bala Giri Desa Pancasari terlebih melalukan sejumlah ritual. Seperti mapiuning (mohon ijin) agar dilancarkan ketika
dipentaskan.

Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group/Radarsukabumi.com) ada dua orang khusus yang memegang rotan sepanjang 2 meter tersebut dengan posisi tergulung. Sedangkan anggota yang lain bertugas membawa pasepan dan sesajen.

Ada pula anggota secara khusus menyanyikan kekidungan berbahasa Jawi dan Bahasa Bugbug sebagai tanda memohon ijin.

Mereka bergerak ke atas panggung. Sesampai di panggung para sekeha mekukan ritual.

Saat itulah, sepasang rotan lanang wadon (laki-perempuan) yang dianalogikan sebagai simbol widyadara dan widyadari merangsuk ke dalam rotan.

Rotan yang ujungnya berisi gangsing dan tetuesan janur itu seolah hidup. Bergerak-gerak, berputar maju mundur,
meliuk-liuk tanpa komando. Persis seperti ular yang hendak mematuk.

Sepasang rotan terlihat garang meskipun pada bagian pangkal rotan dipegang oleh anggota sekeha.

Begitu hidup, anggota sekeha pun turun ke panggung. Suasana kian terasa magis tatkala anggota sekeha lainnya terus mengumandangkan kidung khas Sang Hyang Penyalin.

Sedangkan kedua rotan itu selanjutnya dibawa ke tepian danau untuk matur piuning. Rotan yang bergerak-gerak membuat para penonton dan pengunjung penasaran.

Tak hanya ditarikan oleh anggota sekeha, para penonton juga diperkenankan merasakan kesakralan dari rotan tersebut.

Namun, sebelum dan sesudah menarikan, mereka wajib diperciki tirta dan didampingi oleh anggota sekeha.

“Tenaganya (rotan) sangat besar. Seperti ditarik-tarik. Dibuat sedikit kewalahan,” ujar Komang Yudha, wartawan Bali TV yang ikut menjajal kesakralan Tari Sang Hyang Penyalin.

Kelian Sekeha Sang Hyang Puspa Bala Giri, Gede Adi Mustika mengungkapkan Tarian Sang Hyang Penyalin sejatinya merupakan tarian yang berasal dari Desa Bugbug, Karangasem. Namun dibawa oleh krama ke Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng pada tahun 1958. Tarian ini sudah ditarikan hingga generasi ketiga.

Dikatakan Adi Mustika, Sang Hyang Penyalin merupakan tarian yang sudah ada sejak jaman pra Hindu. Namun kini
dilestarikan oleh masyarakat Pancasari. Sekeha Sang Hyang Puspa Bala Giri, dan wajib dipentaskan saat Sasih Kenem.

“Tarian ini dipersembahkan untuk Dewa-Dewi dan nyomia para Bhuta Kala, khususnya saat Tilem Kenem, Tilem Kesanga baik di Catus Pata. Artinya dilaksanakan saat pecaruan untuk menetralisir Kala agar tidak mengganggu manusia. Ya
tujuanya untuk menolak bala,” ujar Adi Mustika kepada Bali Express.

(izo/rs)