Operasi Keselamatan Semeru 2018

SURABAYA – Operasi Keselamatan Semeru 2018 digelar serentak seluruh Indonesia, termasuk di kawasan Raya Dupak Surabaya, kemarin (14/3). Belasan polisi yang sigap menjalankan tugas membuat pengendara yang tidak memiliki kelengkapan berkendara kelabakan. Hal itu yang juga dirasakan oleh para pelajar. Apalagi, salah satu sasaran utama operasi keselamatan itu adalah para pengendara di bawah umur.

Kekhawatiran itu terlihat di wajah Agiyandri Pradisyah, warga Jalan Ikan Kerapu, Krembangan. Saat dihentikan polisi, remaja 16 tahun tersebut panik karena belum memiliki surat izin mengemudi (SIM). “Sik, Pak. Tak telepon mama,” tuturnya saat diminta menunjukkan SIM-nya.

Agi berusaha mengelabui petugas dan kabur. Namun, polisi sigap memegang motornya. Agi makin kebingungan. Orang tuanya tak mengangkat teleponnya.

Sambil menahan malu, Agi menyerahkan kartu pelajarnya.

Agi mendapat teguran dari petugas. Agi mengaku terpaksa naik motor karena orang tuanya tidak bisa mengantar jemput dirinya. Petugas lantas memberikan hukuman. Tidak sampai tilang. Agi hanya diminta push-up sepuluh kali di pinggir jalan. Agi kebingungan. “Gimana, Pak,” tanyanya. Kanitlantas Polsek Bubutan AKP I Gede Ketut Antara memberi contoh. Agi lantas menirukan di sebelahnya. Setelah itu, namanya didata. Agi diminta berjanji untuk tidak mengulangi pelanggaran.

Antara menjelaskan, operasi tersebut digelar di lokasi rawan laka lantas. Teguran diberikan kepada para pelajar yang melakukan pelanggaran ringan seperti tidak punya SIM atau lupa mengeklik kait helm. Namun, jika pelanggaran itu dinilai rawan memicu kecelakaan, misalnya berboncengan tiga atau tanpa helm, petugas tak ragu untuk menilang.

Operasi Keselamatan Semeru 2018 digelar kepolisian se-Jatim pada 5 Maret hingga 25 Maret. Operasi tersebut memprioritaskan tindakan persuasif untuk menangkal kecelakaan. (hen/c18/ayi/JawaPos/pda)v

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *