Mengenal Pengasuh Ponpes Ahlus Shofa Wal Wafa, Wonoayu KH Moh Nizam As Shofa Dulu Pernah Jadi Preman, Kini Punya Ribuan Jamaah

Karyanya itu selalu berkumandang menjelang waktunya salat.

Banyak kalangan awam menyebut bahwa syiiran ini adalah karya Gus Dur, padahal KH Moh Nizam As Shofa penciptanya.

Bacaan Lainnya

Laki-laki yang lebih dikenal dengan sebutan Gus Nizam ini adalah pengasuh Ponpes Ahlus Shofa wal Wafa, Wonoayu.

MUS PURAMADANI, Sidoarjo

Bermula dari pengajian-pengajian rutin di masjid sekitar tempat tinggalnya ini mulai berkembang hingga akhirnya mendirikan Ponpes As Shofa wal Wafa.

Kini, pengajian yang diasuhnya telah memiliki ribuan jamaah.

Namun sebelum menjadi sosok seperti sekarang, Gus Nizam saat muda juga mempunyai gejolak yang menggebu-gebu.

Pria kelahiran Sidoarjo, 23 Oktober 1973 ini pernah mengembara demi mencari kesaktian hingga mengantarkannya sampai ke Medan.

“Namanya juga darah muda, sifat kurang puas masih ada sehingga saya mencari guru di tempat lain dan sampailah ke Medan,” ungkapnya.

Ceritanya, Gus Nizam mondok di Lirboyo, Kediri.

Saat itu usianya 17 tahun.

Merasa ada yang kurang, ia meninggalkan dunia pesantren untuk berkelana.

Bukan materi yang dikejarnya, melainkan kesaktian.

Karena motto hidupnya kala itu “Di atas langit masih ada langit”.

Berbekal tekad itulah dirinya mulai mencari jawara yang nantinya dijadikan guru.

Banten pernah disinggahi dan salah satu di antaranya adalah Medan.

Tetapi saat tiba di kota itu, ia tidak punya perbekalan.

Padahal dia lapar dan haus.

“Saya berusaha mencari sesuap nasi, mulai mengemis sampai pernah diusir orang,” ujarnya.

Dalam kondisi yang tak sanggup menahan lapar itu, dirinya tak sengaja menatap mata seorang laki-laki bertubuh besar.

Tatapan itu dianggapnya tantangan.

Wajahnya lalu ditampar. Karena lapar, emosinya naik.

Ia berpikir daripada mati kelaparan, lebih baik mati berkelahi.

“Lalu saya berkelahi dengan orang itu dan menang.

Ternyata dia preman.

Lalu orang tersebut minta maaf,” kenangnya.

Setelah peristiwa itu, Gus Nizam diberikan ‘daerah kekuasaan’ karena telah mengalahkan sang preman.

Ia pun juga menjadi preman dan berganti nama menjadi Antok.

Hal itu membuatnya kerap berurusan dengan aparat kepolisian.

Gus Nizam mengaku bersyukur bisa terbebas sebagai preman.

Tapi dia mengambil hikmah dari menjadi preman itu.

Awalnya dia diajak pengusaha yang akan berhijrah bisnis di Kramat Jati, Jakarta.

“Setelah itu saya pulang dan memutuskan melanjutkan kuliah ke Kairo.

Alhamdulillah bisa menjadi seperti sekarang ini,” pungkasnya. (*/jee)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.