Sebab, menurut Fahmi, memilih panglima TNI harus berpatokan pada realitas dan objektivitas. Lebih lanjut dia menyampaikan bahwa Yudo punya kekurangan pada dua poin. Pertama, kurang agresif membangun komunikasi politik. Kedua, kurang intens membangun reputasi dan komunikasi publik. ”Sehingga sulit bagi publik untuk menilai, terutama hal-hal yang menyangkut aspek integritas, akseptabilitas, kapabilitas, dan responsivitas seperti disebut oleh Setara (Institute),” jelasnya.
Di sisi lain, Fahmi menyatakan, Yudo sedikit lebih unggul pada beberapa poin. Termasuk soal usia. ”Seperti sering saya katakan, masa jabatan yang terlalu singkat akan berpotensi menimbulkan ketidakefektifan dalam pengelolaan organisasi,” jelasnya.
Dibanding Andika, Yudo memiliki waktu yang lebih panjang untuk mengemban tugas sebagai panglima TNI. Selain itu, Yudo diunggulkan lantaran saat ini Indonesia perlu membangun kekuatan pertahanan laut yang memadai dan interoperabilitas antarmatra.
Di luar posisinya sebagai orang nomor satu di TNI-AL, sebagai mantan panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) I, Fahmi menilai bahwa Yudo sudah teruji mampu memimpin pasukan yang bertugas di tiga matra berbeda.
”Yudo Margono dengan pengalamannya sebagai KSAL dan Pangkogabwilhan saya kira dapat memperkuat upaya itu jika menjabat panglima TNI,” imbuhnya.






