Dokter Ayu Masnathasari Pakai Jilbab Selama 5 Tahun, Padahal Beragama Hindu

  • Whatsapp

RADARSUKABUMI.com – Video Ananda Ayu Masnathasari bersama Dekan Fakultas Teknologi Industri Universitas Mulsim Indonesia (UMI), Zakir Sabhara viral di media sosial.

Dalam video itu terungkap jika Ayu pakai jilbab selama 5 tahun lebih. Padahal, Ayu beragama Hindu, bukan Islam.

Ayu terpaksa memakai jilbab selama kuliah di Fakultas Kedokteran UMI Makassar Sulawesi Selatan (Sulsel). Sebab, kampus UMI mengharuskan semua mahasiswi memakai hijab.

Ayu telah menyelesaikan studinya dan memperoleh gelar dokter setelah menempuh kuliah selama 5 tahun 8 bulan.

“Ini anak kerennya kedokteran, namanya Ayu Nathasari dari Bali. Untuk pertama kalinya di Fakultas Kedokteran (UMI) ada nonmuslim, agama Hindu,” ucap Zakir Sabhara saat mewawancarai Ayu.

Zakir menanyakan kesan Ayu memakai jilbab selama 5,8 tahun memakai jilbab.

“Tidak mudah pak, tapi jadinya saya banyak belajar karena setiap harinya (pakai jilbab). Akhirnya lebih siap diri saja bahwa setiap hari pasti ada tantangan baru, ada pengalaman baru,” kata Ayu.

Meski beragama Hindu, Ayu patuh mengikuti aturan yang berlaku di kampus, yakni memakai hijab dan pakaian muslim.

“Tidak terpaksa Ayu?,” tanya Zakir.

“Semakin lama, semakin biasa saja, terbiasa,” jawab Ayu.

Kedua orang tua Ayu berasal dari Bali. Namun sudah lama merantau ke Takalar, Sulawesi Selatan. Ayu sendiri kelahiran Takalar. Ayahnya berprofesi sebagai guru olahraga di salah satu SMP di Takalar.

Ayu berpesan kepada mereka yang berbeda agama untuk menjaga kebersamaan dan saling menghormati.

“Tidak ada salahnya saling memahami. Walaupun kita berbeda, tetapi pasti ada celah untuk bersama. Ada kasih sayang,” pesan Ayu.

“Kasih sayang sesama anak bangsa perlu dirawat dan kita buktikan hari ini Ayu bisa menjadi dokter, dr Ayu Masnathasari, SKed, 5 tahun 8 bulan bisa lulus di UMI,” timpal Zakir.

“Ayo kita rawat keindonesiaan kita, kita berbeda dari soal agama, suku, ras, tetapi kita satu. Satu anak negeri, anak bangsa, Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkas Zakir.

(one/pojoksatu)

Pos terkait

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *