Di mata Kades yang sudah dua periode ini, Buya Arrazy juga dikenal sebagai sosok sederhana. Setiap berkunjung ke rumah mertuanya di Palang, ulama kelahiran Sumatera Barat itu tidak pernah meminta sambutan yang spesial.
Keluarganya pun memperlakukannya seperti warga biasa. Bahkan, kerap jalan-jalan di lingkungan sekitar Palang tanpa pengawalan. ‘’Saat pulang, beliau juga sering mengimami salat di musala depan rumah mertuanya,’’ imbuhnya.
Kendati berduka, Buya Arrazy tetap berupaya untuk tegar. Jelang pemakaman putranya Rabu lalu, Jawa Pos Radar Tuban melihat Buya Arrazy lebih banyak menunduk. Berdiri di samping keranda si buyung. Adapun Eli Ermawati, istrinya, saat itu tampaknya tak kuasa menahan duka. Air matanya tampak meleleh.(*)




