Bencana Kekeringan di Papua Ancam Kesehatan Anak, Save The Children dan Yapmi Salurkan Obat-obatan

Save the Children bersama Yayasan Papua Mandiri menyalurkan perlengkapan penting untuk menghadapi cuaca dingin seperti selimut, jaket, dan baju – baju hangat
PENYALURAN BANTUAN : Save the Children bersama Yayasan Papua Mandiri menyalurkan perlengkapan penting untuk menghadapi cuaca dingin seperti selimut, jaket, dan baju – baju hangat. (Dok : Save the Children )

PAPUA — Dampak bencana kekeringan yang melanda Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah mengancam kesehatan anak. Hal tersebut menyusul dari data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Puncak menyatakan sebanyak 8.012 orang terdampak termasuk anak–anak.

Akibat bencana kekeringan tersebut, tak hanya karena kurangnya asupan nutrisi, tetapi anak–anak juga harus menghadapi cuaca yang lebih dingin di Kabupaten Puncak.

Bacaan Lainnya

Fadli Usman selaku Direktur Humanitarian & Resiliensi – Save the Children Indonesia dalam rilisnya merespon bencana kekeringan tersebut, Save the Children bersama Yayasan Papua Mandiri menyalurkan perlengkapan penting untuk menghadapi cuaca dingin seperti selimut, jaket, dan baju – baju hangat. Tak hanya itu, untuk memastikan kesehatan anak – anak di Kabupaten Puncak, Save the Children juga mendistribusikan obat – obatan yang dibutuhkan sesuai rekomendasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Puncak.

Untuk mendukung tanggap darurat yang terkoordinasi dan mengedepankan standar utama Kemanusiaan, Save the Children Indonesia memberikan asistensi teknis terkait manajemen data termasuk informasi tentang komunitas terdampak, kebutuhan utama bagi kelompok rentan dan pendataan barang bantuan serta penerima bantuan.

“Dalam Jangka panjang, Save the Children Indonesia berkomitmen untuk mendorong solusi berkelanjutan melalui kemitraan dan kolaborasi dengan pemangku kepentingan, “tulisnya.

“Anak – Anak di Kabupaten Puncak mengalami dampak ganda dari krisis iklim yaitu kekeringan dan ancaman Kesehatan. Hal ini harus segera tertangani baik respon darurat maupun solusi berkelanjutan. Tim respons kami berada di lapangan, bekerja sama dengan otoritas setempat dan mitra untuk memastikan bantuan mencapai mereka yang membutuhkannya.”tambah Fadli Usman

Sebelumnya, Status tanggap darurat bencana kekeringan yang melanda Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah diperpanjang hingga 6 Oktober 2023 berdasarkan Keputusan Bupati Puncak Nomor 300.2/36/Tahun 2023.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi, fenomena El Nino mampu bertahan hingga akhir 2023. Hal tersebut mengakibatkan musim kemarau lebih panjang dari biasanya. Kondisi ini menyebabkan kekeringan di sejumlah provinsi. Bahkan, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Papua menjadi satu-satunya provinsi dengan potensi risiko kekeringan sangat tinggi di Indonesia per 18 Agustus 2023.

“Kami masih berharap bantuan yang masuk berupa pemberian gizi anak, agar anak lebih kuat karena peristiwa kekeringan yang berkepanjangan ini. Pakaian untuk musim dingin juga menjadi penting terutama untuk anak – anak. Kami juga berharap ada layanaan seperti trauma healing untuk kebutuhan psikologis anak.” Jelas Darwin Haratua Lumban Tobing / Sekretaris Daerah Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *