PPNI Kota Sukabumi Soroti Puluhan Petugas Pemilu yang Tumbang

Irawan Danismaya
Mantan Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kota Sukabumi, Irawan Danismaya.

SUKABUMI– Banyaknya petugas Pemilu yang sakit selama musim penghitungan surata suara di Kota Sukabumi, mencuri perhatian banyak pihak. Salah satunya, mantan Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kota Sukabumi, Irawan Danismaya.

Dari informasi yang diperoleh Radar Sukabumi, di Kota Sukabumi ada 94 orang petugas mulai dari PPS, PPK, KPPS, Linmas, saksi termasuk pemilih yang jatuh sakit. Dua di antaranya bahkan harus mendapatkan perawatan medis di rumah sakit Primaya dan RSUD Syamsudin SH.

Bacaan Lainnya

Mantan Ketua PPNI Kota Sukabumi Irawan Danismaya mengatakan, fenomena ini merupakan tamparan bagi penyelenggara Pemilu. Terlebih, sudah dua periode Pemilu yang mengakibatnya gugurnya petugas.

“Kejadian seperti ini dua periode saya lihat, banyak yang gugur. Ya kalau lihat analisa kemungkinan meninggal kan diduga dua, serangan jantung dan masalah perut. Itu berhubungan sekali karena ketika bangun pagi bertugas sebagai pengawas dan petugas Pemilu dia harus punya energi,” kata Irawan kepada wartawan, Minggu (18/2).

Lanjut Irawan, petugas Pemilu harus teredukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan selama bertugas. Menurutnya, petugas membutuhkan energi lebih untuk berkonsentrasi yang tinggi dan dalam jangka waktu panjang.

“Mungkin energinya cukup tp aktivitasnya panjang. Boleh dicoba, ketika kita sering duduk menghitung, bangun tiba-tiba itu langsung pusing. Itu indikator bahwa tubuh kita kelelahan, konsentrasi butuh energi sehingga itu berkaitan sekali, ini pure masalah kekuatan fisik dan persiapan fisik yang kurang bagus,” paparnya.

Ia menambahkan, makan pagi atau sarapan serta minum air mineral seringkali dianggap sepele sehingga hal itu menjadi penyebab banyaknya petugas Pemilu yang gugur dalam bertugas. Pihaknya mendorong, agar penyelenggara berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Sukabumi untuk melakukan pencegahan bertambahnya korban.

“Dalam mengantisipasi ini, sejawat kita, teman-teman perawat kita ditugaskan berkeliling dari satu TPS ke TPS lain. Itu ada, yali memang hanya sebatas melakukan tindakan gawat darurat, tidak mampu stand by menjangkau karena itu dalam pencegahan ke depan koordinasi lintas sektor segera dilakukan,” tutupnya. (Bam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *