KOTA SUKABUMI

Pertahun, 500 Petani “Gugur”

×

Pertahun, 500 Petani “Gugur”

Sebarkan artikel ini

Tapi, tidak sedikit juga yang terjun langsung dengan menerapkan metode pertanian modern. “Memang, jika dilihat dari angka pengurangannya, angka petani baru usia pemuda itu belum seimbang. Tapi, saat ini dunia pertanian mulai dilirik, bahkan tidak sedikit yang sudah cukup sukses dalam pertanian modern seperti hidroponik dan lainnya,” sebutnya.

Berbagai jenis inovasi, upaya terus dilakukan DKP3 untuk terus menggenjot minat kaum muda pada dunia pertanian. Bahkan, pihaknya kerap melakukan sosialisasi, pendampingan, penyuluhan kepada setia pemuda terutama komunitas pertanian.

Bank bjb Tandamata

“Upaya terus kami lakukan, karena jika seluruh kalangan muda memilih dunia usaha, industri, siapa yang bakal meneruskan bertani. Sedangkan, setiap harinya saja kita mengkonsumsi hasil tani,” ungkapnya.

Kardina juga menerangkan, saat ini luas lahan basah di Kota Suakbumi mencapai 1484 hektare. Sedangkan, lahan berkelanjutan yang dipertahankan mencapai 321 hektar.

“Perkembangan penduduk, industri, dunia usaha memang cukup berpengaruh terhadap alih fungsi dan alih profesi petani. Khususnya di lingkungan kota, tapi kami tetap optimis untuk terus menjaga dan merangkul kaum muda untuk bertani,” tutupnya.

Sementara itu, Isep Agustina (23), pemuda asal Karamat, Gunungpuyuh menilai, penyusutan jumlah petani dan kurang tingginya minat kalangan muda untuk bertani karena dianggap dunia pertanian tidak bernilai profitabilitas. Sehingga, mereka lebih memilih dunia lain.