Pensiunan Guru di Sukabumi Dirikan Saung Angklung Katineung

Saung Angklung Katineung Kota Sukabumi
Pemilik saung Angklung Katineung saat memainkan angklung yang merupakan warisan budaya asli Jawa Barat.

GUNUNGPUYUH – Angklung merupakan warisan budaya sunda, sehingga keberadaanya pun menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Barat bahkan Indonesia yang harus terus dilestarikan. Terlebih, alat musik berbahan dasar bambu ini telah diakui oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2010 lalu.

Di Sukabumi, angklung sendiri jarang terlihat dimainkan anak-anak sekarang ini, bahkan perkembangannya pun dinilai masih kurang.

Bacaan Lainnya

Melihat kondisi tersebut, salah seorang pensiunan guru kesenian Nanang Mulyana, berinisiatif melahirkan Saung Angklung Katineung di Kampung Pasir Pogor RT 04 RW 08, Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Gunungpuyuh, sejak setahun yang lalu.

Untuk diketahui, Katineung sendiri merupakan bahasa sunda yang bisa diartikan sebagai kata rindu atau kenangan.

”Saya mendirikan Saung Angklung Katineung karena merasa perkembangan angklung di Jawa Barat, khususnya Sukabumi masih kurang. Padahal, angklung resmi diakui UNESCO pada 2010 karena masuk dalam warisan budaya takbenda atau Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity,” kata Nanang Mulyana kepada awak media, Minggu (28/4).

Nanang mengaku miris dengan kondisi yang ada, apalagi anak-anak lebih mengenal gadget dibandingkan dengan budayanya sendiri. Untuk itu setelah pensiun, ia memutuskan membuka sanggar pelatihan angklung sekaligus produksi angklung di Kota Sukabumi.

Harapannya, warga dan anak sekolah bisa lebih tahu dan paham apa namanya angklung. Jangan sampai lanjut Nanang, masyarakat tidak mengetahui mengenai angklung. Sementara di luar negeri seperti Jepang, Korea hingga Amerika sudah mengenalnya.

“Saya punya inisiatif untuk mengembangkan kembali agar angklung terus berkembang. Alhamdulillah, saat ini Saung. Angklung Katineung telah menjadi lokasi edukasi atau belajar angklung dari berbagai kalangan,” tambahnya.

Misalnya para pelajar SMK, pondok pesantren, masyarakat sekitar sampai guru seni budaya dari Jakarta. Mereka belajar angklung sekaligus melihat proses membuat angklung di Saung Angklung Katineung.

” Ke depan, doakan ada sanggar atau ada ruangan pementasan angklung. Saya berharap semoga Allah memudahkannya dalam mengembangkan angklung,” pungkasnya. (why)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *