Selain materi teoritis, peserta juga mengikuti sesi praktik langsung menggunakan berbagai tools dan platform AI. Hal ini bertujuan agar mereka tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam mendukung usaha dan profesi masing-masing.
“Kami ingin perempuan menjadi agen perubahan dalam menciptakan masa depan AI yang inklusif dan bertanggung jawab,” tegas Prasasti.
Ia berharap pelatihan ini dapat memicu semangat lebih banyak perempuan di berbagai daerah untuk terlibat aktif dalam dunia teknologi. ICT Watch juga berencana menggelar pelatihan serupa di wilayah lain di Indonesia sebagai bagian dari gerakan pemberdayaan digital.
“Hecterch Berdaya AI merupakan langkah konkret dalam menjembatani kesenjangan digital gender dan memperkuat posisi perempuan Indonesia di tengah revolusi teknologi yang terus berkembang,” pungkasnya.(bam/d)






