Pemkot Sukabumi Tekan Angka Stunting

Walikota Sukabumi, Achmad Fahmi
Walikota Sukabumi, Achmad Fahmi saat memberikan arahan kepada para kader Posyandu

SUKABUMI— Untuk menelam peningkayan angka baru stunting, Pemerintah Kota Sukabumi terus berupaya melakukan berbagai mencegah dengan berbagai cara.

Berdasarkan data terbaru, Kota Sukabumi saat ini merupakan salah satu daerah di Provinsi Jawa Barat, yang angka penderita stuntingnya sesuai dengan batas maksimal yang ditetapkan World Health Organization (WHO).

Bacaan Lainnya

Berdsarkan ketetapan WHO, ambang batas maksimal penderita stunting pada suatu wilayah adalah 20 persen dari total jumlah penduduk. Pada Kota Sukabumi sendiri, saat ini angka penderita stunting berada pada posisi 19,1 persen.

Walikota Sukabumi Achmad Fahmi mengatakan, target Pemerintah Kota Sukabumi pada tahun 2024 mendatang, bisa menekan angka penderita stunting diangka 14 persen.

“Kami berupaya melakukan percepatan penurunan stunting seperti yang ditargetkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat,” ujar Walikota, belum lama ini.

Lanjutnya, dengan target penurunan angka penderita stunting hingga 14 persen tersebut, tentunya berbagai upaya harus dilakukan bersama dalam mensukseskan target tersebut.

“Kita akan berupaya menekan bersama angka stunting di Kota Sukabumi, serta kita akan berkolaborasi dengan daerah penyanggah, untuk bersama menuntaskan target penurunan angka stunting pada 2024 mendatang,” singkatnya.

Stunting merupakan adalah, suatu kondisi serius pada anak yang ditandai dengan tinggi badan anak di bawah rata-rata atau anak sangat pendek, serta tubuhnya tidak bertumbuh dan berkembang dengan baik sesuai usianya dan berlangsung dalam waktu lama.

Berdsarkan data pemerintah Indonesia, Pada tahun 2021 lalu, sekitar 24 persen anak Indonesia mengalami stunting. Artinya ada 1 dari 4 anak Indonesia saat lahir, mengalami stunting.

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh anak pada 1.000 hari pertama masa kehidupan, sejak didalam janin atau saat masih di embrio.

Meskipun stunting merupakan penyakit yang ditandai dengan gejala fisik, namun stunting juga menghambat pertumbuhan otak. Sehingga otak tidak bisa berkembang secara maksimal, dan akan terus berdampak hingga bertumbuh dewasa.

Sebab stunting sendiri, salah satunya karena kurangnya nutrisi pada 1.000 hari pertama tadi, sedangkan 80 persen pertumbuhan otak manusia, terjadi pada 1.000 hari pertama saat berada dalam janin.

Dampak dari stunting sendiri, bisa sangat berakibat terhadap berbagai sektor, contohnya, berdasarkan data terbaru, kerugian Produk Domestik Bruto (PDB) se-Indonesia akibat stunting, bisa mencapai angka 2-3 persen pertahun. Jika angka tersebut dinominalkan, bisa mencapai 339 triliyun – 509 triliyun Rupiah pertahunnya.

Oleh sebab itu, pemerintah berusaha menekan angka penambahan stunting, termasuk juga di dengan Pemerintah Kota Sukabumi, yang menargetkan ‘Zero Kasus Baru Stunting’.

Menurut hasil penelitian, stunting memang tidak bisa disembuhkan, namun penyakit tersebut bisa dicegah, salah satunya dengan melakukan pola hidup sehat terhadap generasi muda, bahkan sebelum mereka melakukan pernikahan. (cr1/t)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 Komentar