Galih menjelaskan bahwa proses identifikasi dan seleksi dilakukan secara ketat. Dimulai dari penelusuran informasi dari masyarakat mengenai keberadaan naskah kuno, dilanjutkan dengan kunjungan langsung ke lokasi, serta pemeriksaan fisik dan isi naskah oleh tim ahli yang terdiri dari filolog dan budayawan.
“Kami ingin memastikan bahwa naskah yang didaftarkan benar-benar autentik dan memiliki nilai keilmuan serta budaya yang tinggi,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, Dispusipda berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga dan merawat naskah-naskah kuno sebagai bagian dari identitas dan sejarah bangsa.
“Sosialisasi dan FGD ini menjadi langkah awal yang strategis dalam membangun kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam menjaga kekayaan literasi masa lalu agar tetap hidup dan relevan di era modern,” pungkas Galih.(bam/d)






