Kang Raden: Corona Ancam Omzet di Kota Sukabumi Nol Persen

  • Whatsapp
Raden Koesumo Hutaripto
Ketua HIPMI Kota Sukabumi, Raden Koesumo Hutaripto.

SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com – Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kota Sukabumi, Raden Koesoemo Hutaripto berharap agar pandemi  corona ini segera berakhir. Sebab, dengan adanya wabah covid-19 ini mengacaukan perekonomian nasional, begitupun di Kota Sukabumi.

“Gara-gara adanya wabah corona ini, perekonomian kita jadi kacau dan terganggu. Bisa dilihatbahwa banyak perusahaan yang bangkrut dan tutup sehingga imbasnya semua orang dirumahkan. Ini karena satu sama lain bisnisnya saling terkait dan pasarnya pun dirumahkan juga,” kata Raden kepada Radarsukabumi.com, Kamis (23/4/2020).

Bacaan Lainnya

Raden yang juga menjabat sebagai Ketua Karang Taruna Kota Sukabumi menyebutkan bahwa hanya ada dua industri yang tidak terpengaruh akibat hadirnya pandemi corona ini, yakni sembako dan alat kesehatan. Sedangkan industri yang paling babak belur adalah industri pariwisata.

Berbicara upaya alternatif untuk tetap bertahan di tengah wabah virus yang berasal dari Wuhan ini, Raden menyebut istilah saving mode. “Kita harus melakukan saving mode atau mode bertahan. Jadi sekarang ini para pengusaha harus berpikir bagaimana caranya mengurangi beban di perusahaan masing-masing, memiliki tabungan dan uang cash untuk bertahan,” jelas Raden.

“Saya kira para pengusaha di Sukabumi mulai menyimpan tabungannya masing-masing,” sambungnya.

Jika mode bertahan ini tidak dilakukan oleh para pengusaha, kata Raden lagi, dikhawatirkan akan terjadi kemerosotan omzet hingga tutupnya perusahaan tersebut. Yang mana imbas dari kejadian ini adalah perusahaan terpaksa merumahkan para karyawannya.

“Kita juga bisa melihat, hampir semua perusahaan merumahkan 50 persen karyawannya. Nah sisa yang 50 persen lainnya yang tidak dirumahkan itu sebenarnya wait and see saja. Apalagi kalau Kota Sukabumi ada PSBB, saya yakin semua orang dirumahkan dan omzet usaha bukan hanya merosot hingga 70 persen, bahkan nol persen,” papar Raden.

“Saya pun omzet hampir 70 persen merosot dikarenakan saya pribadi negara tujuan ekspor lockdown. Jadi sangat terasa sekali perekonomian di tengah corona,” lanjutnya.

Menyinggung pernyataan Presiden Joko Widodo yang meyakini akan terjadi ‘booming’ pada sektor ekonomi pasca pandemi covid-19 berakhir, menurut Raden hal ini sulit untuk terjadi. Karena diperlukan kurun waktu yang cukup lama untuk melakukan penyesuaian kembali yakni paling cepat 6 bulan dan paling lama 1 tahun.

“Indikator booming itu apa? Karena ketika wabah ini usai, penyesuaian sampai pada titik sebelum terjadi Covid-19 itu waktunya 1 tahun. Dari mulai perekrutan karyawan kembali, normalisasi perekonomian, normalisasi aktifitas masyarakat. Jadi tidak mungkin bisa langsung booming speerti sedia kala karena secara tabungan para pengusaha masih kosong, sedangkan konsumsi itu butuh modal,” ungkap dia.

Sebagai pengusaha, Raden hanya bisa berharap dan berdoa agar badai pandemi covid-19 ini segera berlalu. Untuk itu, dia harapkan adanya upaya yang sangat serius dan terukur dari pemerintah agar dapat menangani virus corona. “Tentu ini harapan seluruh masyarakat di dunia agar pandemi corona ini segera berakhir. Untuk itu kami sebagai pengusaha sangat berharap dan mendoakan semoga upaya yang dilakukan pemerintah berhasil dengan cepat,” harapnya. (izo/rs)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *