Harga Telur di Sukabumi Rp 35.000, Para Pedagang Menjerit

Pedagang Kota Sukabumi
Salah seorang pedagang yang kerap mangkal di Jalan Garuda Kecamatan Baros saat menjajakan barang dagangannya, Minggu (28/8).

BAROS – Para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) mengeluhkan tingginya harga telur yang mencapai Rp 35.000 perkilogram. Mereka terpaksa harus memutar otak agar bisa terus berproduksi meski, bakal berdampak pada omset yang didapatkan.

Sumanto (51) misalnya, Ia yang merupakan pengrajin kue basah dan kering berbahan baku telor ini kebingunan dengan harga bahan baku yang terus naik. Ia pun terpaksa menaikan harga barang dagangannya ditengah-tengah surutnya harga penjualan.

“Sudah sepekan ini penjualan menurun dan harga kue juga terpaksa saya naikan mengikuti bahan baku yang juga terus naik,” ungkap Sumanto kepada Radar Sukabumi, Minggu (28/8). “Dilematis, kalo saya tidak naikan dari mana saya bayar kebutuhan lain. Tapi di sisi lain ya saya kehilangan pelanggan,” sambungnya.

Hal serupa juga dialami pedagang Cilor atau Aci Telor, Denis. Ia mengaku, dalam sehari bisa menghabiskan lima sampai enam kilogram telur. Ironisnya, Denis sendiri enggan menaikan harga jual cilornya tersebut. Sebab, pangsa pasar yang diliriknya kebanyakan anak sekolah.

“Kalau harga cilor saat ini belum saya naikan, karena konsumen saya ini anak sekolah. Hanya penghasilan bersih saya berkurang. Biasanya dapet Rp 100.000 sampai Rp 150.000, saat ini mah jadi Rp 50.000 sampai Rp 80.000 perhari,” keluhnya.

Menurut Denis, sebelum harga telur dan bahan baku lainnya naik, biasanya bisa merogoh kocek Rp 100.000 untuk berbelanja bahan baku. Namun saat ini, ia harus merogoh kocek yang dalam saat berbelanja bahan baku, dan secara otomatis penghasilan bersihnya berkurang.

“Telur biasanya Rp 25.000 sampai 28.000 harganya paling tinggi, saat ini mah mencapai Rp35.000 perkilogram. Dan harga aci juga biasanya Rp8.000 sekarang sampai Rp11.000, bukan itu saja harga bumbu juga pada ikut naik. Jadi kami pedagang kecil mah makin susah. Tapi kalau enggak jualan kami mau usaha apa lagi,” lirihnya.

Denis berharap pemerintah segera mengambil tindakan untuk kembali menstabilkan harga. Pasalnya banyak para pedagang yang saat ini terpaksa gulung tikar karena sudah tidak sanggup mengikuti harga bahan baku yang terus naik.

“Kawan saya mah banyak yang akhirnya berhenti berjualan, alasannya harga bahan poko naik, tapi harga jual tidak bisa naik. Di sisi lain kalau naikin harga jual ditinggal pembeli. Tapi kalau menurut saya itu sih resiko dan butuh waktu buat penyesuaian kalau naikin harga. Jadi kalau terus harga bahan pokok begini, terpaksa saya naikin juga harganya,”pungkas Denis. (cr3/t)

Pedagang Kota Sukabumi
Salah seorang pedagang yang kerap mangkal di Jalan Garuda Kecamatan Baros saat menjajakan barang dagangannya, Minggu (28/8).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.