Bencana Alam di Kota Sukabumi Hingga Oktober 166 Kejadian

Kondisi rumah warga Kampung Warungkalapa RT1/1, Kelurahan/Kecamatan Lembursitu,
TERANCAM AMBRUK: Kondisi rumah warga Kampung Warungkalapa RT1/1, Kelurahan/Kecamatan Lembursitu, tergerus longsor dan terancam ambruk, Minggu (16/10).

SUKABUMI — Jumlah bencana alam di Kota Sukabumi, masih tinggi. Terbukti, dari data yang tercatat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sepanjang Januari hingga Oktober 2022 terdapat sebanyak 166 bencana.

Adapun, rincian dari jumlah total bencana alam yang terjadi diantaranya, 55 tanah longsor, 41 cuaca ekstrem, 34 banjir, 31 kebakaran, dua puting beliung dan tiga gempa bumi. Akibat bencana itu, luas area 67,14 hektare dan 945 Kepala Keluarga (KK) terdampak dengan nilai kerugian ditaksir mencapai Rp10.915.495.000.

Bacaan Lainnya

Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi, Imran Wardhani menjelaskan, dari Sistem Informasi Elektronik Data Bencana (SiEdan) yang dihimpun hingga Oktober tahun ini terdapat 166 kali bencana yang tersebar di 7 kecamatan yang ada di Kota Sukabumi.

“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut hanya kerugian materi saja,” kata Imran kepada Radar Sukabumi, belum lama ini.

Lanjut Imran, pada Februari merupakan frekuensi tertinggi yang dilaporkan masyarakat dengan jumlah mencapai 35 kejadian, disusul Oktober dengan 30 kejadian, dan April terendah dengan jumlah kejadian mencapai 4 kasus. “Tanah longsor dan cuaca ekstrem tahun ini paling mendominasi bencana di Kota Sukabumi,” ujarnya.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi, Imran Wardhani
Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi, Imran Wardhani

Sementara, Imran menyebutkan, Kecamatan Cikole wilayah tertinggi dengan 31 kali kejadian bencana dan yang terendah berada di Kecamatan Kecamatan Gunungpuyuh dan Kecamatan Citamiang dengan masing-masing 17 kali kejadian.

“Kecamatan Cikole yang jumlah bencananya tergolong sangat tinggi, jika dibandingkan dnegan Kecamatan Gunungpuyuh dan Citamiang,” ucapnya.

Sementara itu, khusus pada Oktober paling banyak disebabkan cuaca ekstrem, banjir dan longsor dengan jumlah 30 kejadian. Terdiri dari Banjir lima kali, Cuaca Ekstrem lima kali, Longsor 15 kali, dan kebakaran lima kali.

“Dari kejadian tersebut, sebanyak 113 jiwa terdampak, kemudian 100 unit bangunan rusak, dan satu orang meninggal karena faktor kormobid,” cetusnya.

Tingginya aduan di Oktober, lanjut Imran, tidak terlepas dari cuaca dan hujan yang makin intens terjadi. Karena BMKG merilis saat ini sudah memasuki musim penghujan yang ditandai dengan curah hujan yang cukup tinggi sehingga memicu terjadinya bencana hidrometeorologi seperti Cuek Balong (Cuaca Ekstrem, Banjir Longsor).

“Untuk tahun 2022 ini, BPBD Kota Sukabumi tetap mewaspadai potensi bencana alam yang terjadi. Hal ini karena curah hujan masih tinggi. Peningkatan kewaspadaan di masyarakat juga terus kita sosialisasikan,” tutupnya. (cr4/t)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *