Vaksin Sinovac Tiongkok, di Bandung Masih Berlangsung, di Brasil Distop

  • Whatsapp

RADAR SUKABUMI – Sinovac Biotech buka suara. Kemarin (10/11) perusahaan farmasi yang berbasis di Beijing, Tiongkok, itu akhirnya memberikan komentar terkait penghentian uji coba vaksin buatan mereka, CoronaVac, di Brasil. Sinovac mengaku terkejut dengan keputusan regulator kesehatan Brasil, Anvisa.

“Kami yakin akan keamanan vaksin (CoronaVac) tersebut,’’ bunyi pernyataan Sinovac Biotech seperti dikutip Agence France-Presse. Meski belum lolos uji klinis tahap III, CoronaVac sudah dipakai untuk vaksinasi ribuan orang di Tiongkok.

Bacaan Lainnya

Menurut Sinovac, insiden yang terjadi di Brasil tidak berhubungan dengan vaksin yang tengah mereka kembangkan. Sinovac akan berkomunikasi lagi dengan pemerintah Brasil dan jajarannya terkait hal itu.

Pernyataan Sinovac tersebut keluar setelah sehari sebelumnya Anvisa menghentikan seluruh proses uji klinis tahap III CoronaVac. Anvisa tidak memberikan alasan detail. Mereka hanya menyatakan bahwa terjadi insiden merugikan yang melibatkan relawan penerima vaksin pada 29 Oktober lalu.

Langkah yang diambil Anvisa itu menjadi pukulan bagi Sinovac. Karena uji coba dihentikan, tidak ada relawan baru yang bisa divaksinasi. Padahal, mereka membutuhkan 130 ribu relawan dan jumlah tersebut belum terpenuhi. Saat ini perusahaan-perusahaan farmasi sedang berkejaran dengan waktu agar bisa secepatnya menyelesaikan uji coba dan memulai proses produksi. Sebab, kasus Covid-19 di dunia kian melonjak tajam.

Meski Anvisa tak menyebutkan apa yang terjadi, biasanya penghentian uji coba semacam itu terkait dengan kematian, potensi efek samping yang fatal, kecacatan pada kehamilan, dan berbagai hal serius lainnya.

Lembaga penelitian medis Brasil yang bekerja sama dengan Sinovac, Butantan Institute, mengungkapkan bahwa memang ada relawan yang meninggal. Tapi, itu bukan disebabkan vaksin yang mereka injeksikan. Mereka kini menyelidiki secara detail apa yang terjadi dan siap membantu pemerintah untuk memberikan penjelasan.

’’Ada lebih dari 10 ribu relawan saat ini, kematian bisa saja muncul. Itu adalah kematian yang tidak berhubungan dengan vaksin dan karenanya ini bukan waktunya untuk menghentikan uji coba,’’ ujar Kepala Butantan Istitute Dimas Covas saat diwawancarai TV Cultura.

CoronaVac menjadi permainan politik di Brasil. Presiden Brasil Jair Bolsonaro tidak setuju dengan penggunaan CoronaVac. Dia lebih memilih menggunakan vaksin yang dikembangkan Oxford University bersama AstraZeneca. Vaksin buatan Sinovac, AstraZeneca, dan Pfizer sama-sama berada di uji klinis tahap III. Ketiganya melakukan uji coba di Brasil yang merupakan negara dengan angka penularan Covid-19 tertinggi kedua di dunia.

’’Rakyat Brasil tidak akan menjadi kelinci percobaan siapa pun,’’ ujar Bolsonaro bulan lalu ketika Kementerian Kesehatan berencana membeli 46 juta dosis CoronaVac.

Berbeda dengan Sinovac, Pfizer justru membawa kabar baik. Mereka mengungkapkan bahwa efektivitas vaksin yang mereka kembangkan mencapai lebih dari 90 persen. Padahal, untuk mendapatkan izin edar dari WHO, hanya dibutuhkan efektivitas lebih dari 50 persen.

Pfizer yang bekerja sama dengan BioNTech menegaskan tidak menemukan masalah keamanan yang serius pada vaksin yang mereka kembangkan. Mereka berharap keputusan izin produksi bisa keluar Desember nanti.

Rusia tak mau kalah. Mereka juga mengklaim bahwa vaksin Sputnik V yang dikembangkan Gamaleya Research Institute of Epidemiology and Microbiology juga memiliki efektivitas lebih dari 90 persen. Data yang didapatkan bukan dari uji coba klinis, melainkan dari penduduk yang sudah ikut program vaksinasi. ’’Ini adalah berita baik untuk semua orang,’’ ujar Direktur Institut Penelitian di Bawah Kementerian Kesehatan Rusia Oksana Drapkina.

Dampak ke Ekonomi RI

Kabar baik terkait vaksin Pfizer membawa sentimen positif bagi ekonomi dalam negeri. Menteri Keuangan Sri Mulyani menuturkan, kabar baik itu melengkapi sentimen positif yang muncul pasca kemenangan Joe Biden sebagai presiden AS.

’’Penemuan efektivitas salah satu vaksin Pfizer menimbulkan sentimen positif di seluruh dunia. Lalu, hasil pemilu AS juga diharapkan bisa memberi sentimen positif,” ujarnya melalui video conference kemarin (10/11).

Dia berharap perkembangan vaksin tersebut bisa membawa kepercayaan bagi pemulihan ekonomi ke depan. Namun, dia juga tetap mengimbau seluruh pihak agar mewaspadai gelombang kedua Covid-19 dan dampak yang ditimbulkan.

’’Ini tentu menimbulkan kompleksitas dari sisi policy-nya karena masyarakat sudah cukup lelah, ekonomi mengalami tekanan. Dengan begitu, pada saat mereka harus menghadapi second wave, kemampuan dan endurance-nya untuk menangani Covid akan sangat berbeda,” urai mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu.

Sementara itu, uji klinis calon vaksin Covid-19 dari Sinovac di Bandung masih berlangsung. Uji klinis itu kerja sama antara Bio Farma dan Universitas Padjadjaran (Unpad). Penyuntikan pertama sudah mencakup seluruh relawan. Dilanjutkan suntikan kedua. ”Sekarang semua subjek penelitian sudah selesai disuntik,” tutur Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Unpad Prof Kusnandi kemarin (10/11).

Hasilnya, menurut dia, tak ada yang mengkhawatirkan. Sebanyak 1.620 relawan yang menjadi subjek penelitian akan dipantau sampai enam bulan ke depan. Caranya dengan mengambil darah setelah disuntik. Pemantauan lanjutan dilakukan pada tiga bulan dan enam bulan setelah disuntik dengan metode yang sama.

”Maksudnya untuk mengevaluasi antibodinya,” ucapnya. ”Nanti dibandingkan antara yang diberi vaksin dan plasebo,” lanjut Kusnandi. Hal itu dilakukan untuk melihat keamanan dan efek vaksin. Laporan ini nantinya dibawa ke internasional dan digabung dengan negara lain.

Terkait dengan Brasil yang menghentikan uji klinis vaksin Covid-19 dari Sinovac, Kusnandi enggan berpendapat. Sebab, dia belum mempelajarinya. ”Baru muncul beritanya hari ini (kemarin, Red),” tuturnya.(jpc)

loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *