KABUPATEN SUKABUMI

TPA Cikupa Disoal Warga

SURADE – Warga Desa Kadaleuman menyoal terkait keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Kampung Cikupa, Desa Kadaleuman, Kecamatan Surade. Pasalnya, tumpukan sampah yang dihasilkan dari wilayah dapil III Jampangkulon tersebut, selain mengeluarkan aroma tidak sedap juga dapat mencemari lingkungan.

Seorang warga Kampung Cikupa, Desa Kadaleuman, Kecamatan Surade, Maman Komeng (40) mengatakan, tumpukan sampah yang menggunung itu diprotes warga karena menimbulkan bau tidak sedap dan banyak lalat bertebaran ke pemukiman penduduk.

“Setiap harinya warga Kampung Cikupa selalu disesaki aroma tidak sedap dari tumpukan sampah itu. Terlebih lagi, lokasi tumpukan sampah hanya berjarak sekitar 50 meter dengan pemukiman penduduk,” jelas Maman kepada Radar Sukabumi, kemarin (7/2).

Keberadaan TPA sampah, sambung Maman, dipastikan telah mengganggu kenyamanan warga sekitar. “Baunya sangat menyengat hingga sejauh satu kilometer. Apalagi jika truk yang mengangkut sampah dalam kondisi basah, seseran airnya sangat bau,” ujarnya.

Menurut Maman, warga Kampung Cikupa merasa kecewa atas kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi yang dianggap hanya melaksanakan kebijakan sepihak, tanpa melihat dampak yang akan dirasakan warga.

“Keberadaan TPA sampah ini sudah ada pada 2010 lalu. Sebetulnya warga keberatan dengan keberadaan TPA ini, karena berdampak buruk terhadap lingkungan disini. Bahkan, air yang menggenang di sekitar areal TPA menimbulkan jentik-jentik nyamuk dan warna airnya sangat hitam pekat,” tandasnya.

Hal serupa dikatakan, Ketua Pengelola Objek Wisata Leuwi Kenit, Yudi Taufi k Ismail (37), warga Kampung Babakan Baru, Desa Pasirpanjang, Kecamatan Ciracap. Ia mengatakan, keberadaan lokasi TPA sampah ke aliran sungai Cikarang hanya berjarak sekitar 100 meter.

Sedangkan ke Leuwi Kenit yang menjadi salah satu objek wisata Geopark Ciletuh, berjarak sekitar 1000 meter.

“Kami harap keberadaan TPA ini direvisi. Karena sudah jelas dampaknya kepada lingkungan dan menimbulkan bau busuk.

Sementara untuk dampak ke destinasi wisata Leuwi Kenit saat ini, belum terasa. Namun jika tidak segera direvisi pada 5 sampai 10 tahun kemudian, tumpukan sampah seperti jenis plastik bisa tumpah ruah ke sungai dan terbawa arus.

Ya, tentunya akan mencemari sungai Cikarang dan pantai Ciracap. Karena jarak dari lokasi tumpukan sampah ke pantai hanya berjarak sekitar 20 kilometer,” imbuhnya.

Ia menambahkan, dalam satu harinya sedikitnya empat truk mobil pengangkut sampah di wilayah III Jampangkulon masuk ke TPA sampah tersebut.

“TPA sampah ini, memiliki luas sekitar satu hektare. Bisa dibayangkan bagaimana nantinya,” imbuhnya. Sebab itu, ia bersama warga lainnya berharap kepada pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi agar segera merevsi ulang keberadaan TPA sampah tersebut dan mencari solusi yang baik untuk keberadaan tempat sampah.

“Seharusnya TPA sampah itu jauh dengan pemukiman penduduk dan sungai. Bukan seperti sekarang, lokasi tumpukan sampah hanya berjarak beberapa meter ke rumah warga,” pungkasnya. (Den/d)

Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button