Termasuk Sukabumi, Daerah Asal Tokoh Pahlawan Nasional Diminta Siap Hadir di Istana Negera 7 November

Menkopolhukam Mahfud MD. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com
Menkopolhukam Mahfud MD. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com

JAKARTA — Termasuk Sukabumi, Lima daerah asal tokoh penerima gelar Pahlawan Nasional yang baru-baru ini dinobatkan Presiden Jokowi diminta hadir di Istana Negera, 7 November 2022.

Menkopolhukam mengimbau kepada daerah-daerah asal dari para tokoh penerima gelar pahlawan nasional, untuk mempersiapkan diri hadir dalam peringatan Hari Pahlawan 10 November yang rencananya akan digelar Senin, 7 November 2022 di Istana Negara Jakarta.

“Kami sarankan kepada daerah-daerah tadi yang sudah mempunyai usul-usul dan disetujui oleh pemerintah supaya segera menyiapkan diri untuk hadir dan melakukan penyambutan-penyambutan, baik upacara adat, upacara daerah, atau apapun yang bisa dilakukan untuk menyongsong anugerah ini,” ucap Mahfud dalam keterangannya belum lama ini.

Adapun 5 tokoh pahlawan nasional yang akan mendapat gelar pahlawan nasional adalah; Pertama, Tokoh Jawa Barat almarhum KH. Ahmad Sanusi ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Pemerintah Pusat. Ahmad Sanusi akan digelari pahlawan nasional bersama empat tokoh bangsa dari daerah lain.

KH. Ahmad Sanusi merupakan salah satu anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang belum mendapat gelar pahlawan nasional.

Ahmad Sanusi juga tokoh Islam yang memperjuangkan dasar negara yang menghasilkan kompromi lahirnya negara Pancasila.

Kedua, almarhum DR. dr. H. R. Soeharto dari Jawa Tengah yang dinilai telah berjuang bersama Presiden Soekarno dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.

Bahkan setelah kemerdekaan, almarhum DR. dr. H. R. Soeharto ikut serta dalam pembangunan sejumlah infrastruktur di Tanah Air.

Ketiga, almarhum KGPAA Paku Alam VIII yang merupakan Raja Paku Alam dari tahun 1937-1989. Beberapa jasa yang telah diberikan almarhum KGPAA Paku Alam VIII antara lain bersama Sultan Hamengkubowono IX dari Keraton Yogyakarta mengintegrasikan diri pada awal kemerdekaan Republik Indonesia sehingga Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi utuh hingga saat ini.

Keempat, almarhum dr. Raden Rubini Natawisastra, dari Kalimantan Barat. Menurut Mahfud, almarhum dr. Raden Rubini Natawisastra telah menjalankan misi kemanusiaan sebagai dokter keliling pada saat kemerdekaan.

Bahkan, almarhum bersama istrinya rela dijatuhi hukuman mati oleh Jepang karena perjuangannya yang gigih untuk kemerdekaan Republik Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *