Ia juga menekankan bahwa madrasah tersebut merupakan sekolah inklusif, tempat anak-anak dari berbagai latar belakang, termasuk yang memiliki keterbatasan fisik atau psikologis, tetap mendapat ruang yang sama untuk belajar dan berkembang. Pemantauan kondisi psikologis siswa dilakukan secara rutin melalui wali kelas, BP, dan BK.
Pagi setelah kejadian, seluruh guru dan siswa menggelar doa bersama, tahlilan, dan tawasulan di rumah duka. Wawan bersama para guru juga menemui ibu korban untuk menyampaikan belasungkawa dan dukungan moral.
“Kami menyampaikan bahwa ini adalah takdir Allah yang harus kita terima dengan ikhlas. Mudah-mudahan almarhumah diterima di sisi Allah dalam keadaan iman dan Islam,” tutup Wawan dengan suara penuh haru.(den/d)




