Retakan Tanah di Cireunghas Sukabumi, PVMBG Jelaskan Penyebabnya

RUSAK BERAT : Rumah milik Dede di Kampung Tegalkaso, RT 05/RW 03, Desa Bencoy, Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi, ambruk setelah diterjang retakan tanah pada Jumat (01/12) sore.(foto : ist)
RUSAK BERAT : Rumah milik Dede di Kampung Tegalkaso, RT 05/RW 03, Desa Bencoy, Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi, ambruk setelah diterjang retakan tanah pada Jumat (01/12) sore.(foto : ist)

SUKABUMI – Bencana retakan tanah yang merusak sejumlah rumah hingga mengancam puluhan rumah penduduk di Kampung Tegalkaso, RT 03/RW 05, Desa Bencoy, Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi, telah menyita perhatian semua kalangan.

Salah satunya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menilai bahwa retakan tanah yang menyebabkan salah satu rumah di wilayah tersebut, ambruk hingga nyaris rata dengan tanah tersebut, masuk pada Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT).

Bacaan Lainnya

“Daerah ini memang berada pada peta ZKGT dan beradasarkan data yang tercatat di PVMBG, bahwa wilayah Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi ini, masuk pada kategori potensi gerakan tanahnya berada di posisi menengah hingga tinggi,” kata Kepala Tim Kerja Gerakan Tanah di PVMBG- Bidang Geologi KESDM, Oktory Prambada kepada Radar Sukabumi pada Senin (04/12).

Gerakan tanah – menengah, sambung Oktory, merupakan saerah yang mempunyai tingkat kerentanan menengah untuk terkena gerakan tanah. Pada Zona ini dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan. “Jadi, kalau Desa Bencoy di peta ZKGT itu, sebagian ada di zone gerakan tanah menengah,” bebernya.

Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di daerah tersebut, karena jalur air atau gorong-gorong tertimbun menjadi pemukiman yang padat. Selain itu, muka air tanah yang dangkal dan munculnya mata air. Namun beberapa mata air ditutup serta pembuangan jalur air atau limpasan dari air yang berlebih tidak jelas dibawah rumah dan bahkan beberapa sudah ditimbun. “Kondisi geologi karena batuan dasar desa ini berupa batulempung dan rapuh. Sehinga mudah mengalami pergerakan tanah tipe lambat,” imbuhnya.

Menurutnya, gerakan tanah tipe lambat didaerah ini tidak membutuhkan kelerengan yang terjal dan kelerengan hanya berkisar 10 derajat. Selain itu, pola drainase yang kurang tertata dengan baik secara morfologi desa ini berupa lembahan dan tempat akumulasi air. “Jadi, gerakan tanah ini dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah atau hujan deras lebih dari 5 jam,” timpalnya.

Di daerah terdampak bencana retakan tanah di wilayah Desa Bencoy, Kecamatan Cireunghas, pada bagian atas pemukiman dan pada tekuk lereng banyak dijumpai mata air. Beberapa maya air sudah tidak ada serta saluran air tertutup atau diitimbun untuk pemukiman.

Terlebih, curah hujan yang tinggi meresap melalui pori tanah dan retakan. Sehingga tanah permukaan menjadi jenuh dan meningkatnya tekanan air pori. Tanah menjadi jenuh dan bobot massa tanah meningkat.

Kondisi ini menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan air pori dan berkurangnya daya ikat tanah. Arah saluran air yang tertimbun dan dan muka air tanah yang dangkal dan banyak mata air, sehingga pada saat curah hujan tinggi tekanan air pori menjadi meningkat.

“Sehingga terjadi pergerakan tanah yang terjadi bertipe rayapan atau lambat yang merusak jalan dan pemukiman atau rumah warga,” tandasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *