Saat ini, warga Desa Padabeunghar hanya bisa pasrah dengan kondisi seperti ini. Mereka terpaksa setiap harinya merasakan buruknya kualitas udara yang tercemar akibat polusi dari pabrik kapur yang baunya cukup menyengat.
“Saya tidak bisa berbuat banyak. Karena perusahaan itu sangat nakal. Bahkan beberapa bulan terkahir, persoalan ini sempat dimediasi di kantor desa. Namun hingga saat ini perusahaan batu kapur itu terkesan tidak mengindahkan peraturan,” tandasnya.
Sementara itu, seorang pengendara sepeda motor Kamaludin (38), warga Kampung Jelebud, Desa/Kecamatan Jampangtengah mengatakan, setiap melintas jalan raya Padabeunghar kondisi jalan selalu ditutupi asap hitam hasil dari pembakaran batu kapur.
“Saat melihat ke pinggir jalan, proses pembakaran batu kapur itu dilakukan dengan cara manual dengan menggunakan bekas ban mobil. Pantesan saja, kepulan asap itu menutupi badan jalan.
Ternyata, bahan bakarnya menggunakan ban. Padahal jika bahan bakar itu menggunakan kayu, pasti asap yang ke luar dari cerobong perusahaan tidak akan melampui batas,” imbuhnya.
Ia berharap, pemerintah dapat menertibkan keadaan pabrik yang semakin hari semakin semerawut serta tidak memperhatikan dampak terhadap lingkungan sekitar.




