Nenah mengaku belum bisa memproduksi dengan jumlah banyak kripik lantak squad rembo itu, lantaran modalnya pun terbatas dan masih dalam masa PPKM sehingga pemasarannya pun hanya sebatas dari warung ke warung sekitar saja.
“Kami gak produksi setiap hari tapi seminggu sekali, kadang 50 kilogram sampai 1 kwintal dan disebar ke lingkungan sini saja. Nanti jika modal sudah nambah baru akan kami kembangkan lagi. Sebab hasil dari penjualan ini kami kumpulkan dulu baru setelah terkumpul setahun, baru dibagikan,” paparnya.
Ia mengaku sejauh ini kendala usaha bersamanya itu, sisa penjualan dari warung tidak bisa dimanfaatkan sehingga terbuang begitu saja, sehingga terkadang bukan untuk malah merugi. Apalagi saat ini kebutuhan bahan sudah naik, belum untuk operasional.
“Kesulitannya paling sisa hasil penjualannya karena kita gak ambil lagi, itu terserah warung mau dibuang atau seperti apa. Saat ini penghasilan seminggu baru sekitar Rp150 ribu. Mudah-mudahan ada bantuan dari pemerintah untuk memajukan usaha kami,” tandasnya. (cr1/d)






