KABUPATEN SUKABUMI

Jejak Rempah Sukabumi, Menyemai Pertumbuhan dengan Hati

×

Jejak Rempah Sukabumi, Menyemai Pertumbuhan dengan Hati

Sebarkan artikel ini
Dari lima tampir hingga ratusan terpal, Bubun membuktikan bahwa usaha kecil bisa tumbuh besar bersama BRI

SUKABUMI — Aroma khas rempah-rempah menyeruak dari halaman rumah sederhana di Kampung Cipetir, Desa Cicareuh, Kecamatan Sukabumi. Di sana, tampak deretan terpal penuh dengan pala, cengkeh, kapol, kayu manis, laja, kopi, hingga kakao yang dijemur di bawah terik matahari. Semua itu milik Bunyamin (60), atau akrab disapa Bubun, seorang pengusaha rempah yang telah menekuni usaha ini selama lebih dari tiga dekade.

Perjalanan Bubun bukanlah kisah instan. Ia memulai dari nol, dengan modal kecil dan semangat besar. “Awalnya pinjaman Rp3 juta dari BRI, sekarang sudah Rp100 juta. Alhamdulillah terbantu dengan adanya pinjaman dari BRI,” ujarnya sambil tersenyum. Dari modal kecil itu, kini omzetnya mencapai ratusan juta rupiah, sebuah pencapaian yang lahir dari kerja keras dan ketekunan.

Bank bjb Tandamata

Rempah-rempah yang dijual Bubun tidak hanya beredar di Sukabumi, tetapi juga merambah Bogor, Bandung, hingga Jakarta. Cara penjualannya sederhana: dari mulut ke mulut, pelanggan setia, hingga wisatawan yang kebetulan melintas di jalur menuju Pantai Palabuhanratu. “Penjualan kemana saja, kita mencari peluang yang lebih bisa menguntungkan,” katanya.

Namun, perjalanan panjang itu tidak selalu mulus. Bubun masih ingat masa sulit saat pandemi Covid-19 melanda. “Pas Corona awal 2020, susah beli, susah jual. Enggak bebas usaha waktu itu,” kenangnya. Meski begitu, ia tetap bertahan, memperkerjakan dua orang pekerja dan seorang sopir untuk mengangkut rempah dari petani di Cikidang, Kalapanunggal, hingga Palabuhanratu.

Kini, dengan dukungan BRI, Bubun mampu membeli rempah langsung dari petani dan mengolahnya sebelum dijual. “Rp100 juta sebetulnya tidak cukup, tapi saya harus bersyukur. Dari hal kecil bisa jadi besar. Yang penting bisa menyekolahkan anak,” tuturnya. Ia menambahkan, harga rempah biasanya melonjak di bulan Agustus, terutama cengkeh, sehingga pekerjaannya semakin ramai.

Mantri BRI Unit Cibadak Ikhsan saat melakukan pendampingan

Bubun berharap ke depan pinjaman bisa lebih besar agar usaha semakin berkembang. “Alhamdulillah bantuan dari BRI mengembangkan usaha. Dari awal hanya lima tampir, sekarang sudah ratusan tampir terpal. Kalau penuh bisa sampai 10 terpal,” pungkasnya.

Sementara itu, Eki Dyata Fredi Setiawan, Pemimpin Cabang KC BRI Cibadak, menegaskan bahwa kisah Bubun adalah contoh nyata bagaimana BRI hadir bukan sekadar sebagai bank, tetapi sebagai mitra perjalanan ekonomi masyarakat. “Kami ingin memastikan bahwa setiap pelaku usaha, sekecil apapun, memiliki akses untuk tumbuh. Karena ketika mereka maju, maka BRI pun ikut maju,”tambahnya.

“Bubun adalah contoh nyata bagaimana sebuah usaha kecil bisa tumbuh besar ketika didukung dengan akses permodalan yang tepat. BRI hadir bukan hanya untuk memberikan pinjaman, tetapi juga untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang disalurkan benar-benar menjadi energi bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ujar Eki Dyata Fredi Setiawan.

Menurutnya, kisah Bubun mencerminkan filosofi BRI sebagai bank yang lahir dari rakyat dan bekerja untuk rakyat. “Kami percaya bahwa kekuatan ekonomi lokal ada di tangan pelaku usaha kecil dan menengah. Mereka adalah tulang punggung perekonomian daerah. Ketika mereka berkembang, maka kesejahteraan masyarakat ikut meningkat,” tambahnya.

Eki menekankan bahwa BRI Cibadak tidak hanya berfokus pada angka pencapaian finansial, tetapi juga pada dampak sosial yang tercipta. “Bagi kami, keberhasilan bukan sekadar laporan keuangan yang tumbuh, melainkan bagaimana usaha seperti Bubun bisa menyekolahkan anak-anaknya, membuka lapangan kerja, dan menjaga tradisi rempah yang menjadi identitas Sukabumi. Itu adalah nilai yang jauh lebih besar.”

Ia juga menyoroti pentingnya adaptasi di era digital. “Kami mendorong mitra usaha untuk mulai memanfaatkan teknologi, baik dalam pemasaran maupun pencatatan keuangan. Dengan begitu, usaha tradisional seperti rempah bisa menjangkau pasar yang lebih luas, bahkan hingga ke luar negeri.”

Menutup komentarnya, Eki menyampaikan harapan agar BRI terus menjadi sahabat perjalanan masyarakat. “Kami ingin setiap mitra merasa bahwa BRI bukan sekadar bank, melainkan keluarga yang selalu ada di saat senang maupun sulit. Kisah Bubun adalah inspirasi bagi kami, dan kami yakin masih banyak kisah lain yang akan lahir dari dukungan BRI.”pungkasnya. (*)