Namun, ia mengakui adanya kendala dalam layanan kesehatan, terutama terkait data NIK yang tidak sinkron antara KK dan KTP, sehingga menghambat proses BPJS. “Hal itu menjadi hambatan utama dalam akses layanan kesehatan,” tambahnya.
Wardi juga menyebut bahwa perilaku orang tua Raya kadang membingungkan, meski tidak dapat dikategorikan sebagai gangguan jiwa. “Misalnya, diberi pakaian tapi dibuang. Bahkan saat pemakaman, ayahnya sempat menghilang hingga larut malam,” ujarnya.
Tragedi yang menimpa Raya kini menjadi perhatian banyak pihak. Pemerintah kecamatan dan desa berkomitmen untuk meningkatkan pemantauan dan mengevaluasi sistem layanan dasar agar kejadian serupa tidak terulang di wilayah Kabandungan.(ndi/d)




