DATA COVID-19 Update : 1 April 2020 pukul 16.00 WIB
Kasus PositifMeninggalSembuh
DKI Jakarta

808

85

50

Jawa Barat

220

21

11

Indonesia

1.677

157

103

Dunia (202 Negara)754.94836.531
DPRD Kabupaten Sukabumi

Ade Dasep: Hidup Ini Dua Pilihan

SUKABUMI – “Mau bangkit atau tetap meratapi nasib”, hal tersebut dikatakan oleh Ade Dasep Zaenal Abidin saat mengunjungi kedua anak yatim piatu Lastri Sri rahayu (15) dan Siti Nurohmah (10) di Kampung Kamandoran RT 02/10, Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak beberapa waktu lalu. Menurutnya, hal inilah yang ingin digaungkan kepada masyarakat seperti yang dikatakan kepada kedua anak yatim piatu tersebut.

Menurutnya, ia bisa saja memberikan keinginan apapun kedua anak yatim tersebut. Namun, hal itu akan menjadikan keduanya pemalas dan akan ketergantungan orang lain untuk dikasihani.

“Saya mendatangi kedua anak yatim ini, ingin mengetahui kondisinya. Setelah itu, memberikan semangat untuk tegar dan sabar dalam cobaan hidup. Namun saya tegaskan, hidup ini dua pilihan. Mau bangkit atau tetap meratapi nasib.

Artinya kalau mau bangkit, ayo semangat bersekolah dan belajar, agar kedepan masa depan cerah. Jika, memilih yang kedua, pastinya masa depan akan suram,” terang Ade Dasep Zaenal Abidin beberapa waktu lalu.

Pada dasarnya, didalam dunia ini semuanya juga tidak terlepas dari dua pilihan. Orang baik dan orang jahat, kebenaran dan kesalahan, siang dan malam, perempuan dan laki-laki. Jika memilih jalan yang jahat, maka akan dipertemukan dengan orang jahat. Jika memilih jalan benar, akan dipertemukan dengan jalan yang benar juga.

“Ibarat jodoh, adalah cerminan diri kita. Jika kitanya baik, maka akan mendapatkan orang baik. Itu sudah ketentuan. Saya katakan kepada dua anak yatim tersebut.

Loading...

Saya tidak ingin memberikan ikannya, tetapi saya tanamkan pancingnya agar mereka tergerak dan bangkit untuk masa depan yang lebih cerah lagi. Mereka masih muda, masih bisa terus digali potensinya. Semoga kesuksesan mereka rasakan,” harapnya.

Segala sesuatu kejadian tidak terlepas dari kuasanya (Allah SWT). Apa yang dialami Siti dan Lastri adalah gambaran bagi semua orang untuk bersyukur. Diusianya yang masih muda, sudah ditinggalkan kedua orang tuanya. Namun, mereka masih bersemangat untuk hidup dengan mencoba berjualan gorengan untuk sehari-hari dalam mendapatkan uang jajan.

“Nah, ini yang saya sampaikan pesan kepada masyarakat. Bahwa tidak ada satu orangpun di dunia tidak memiliki masalah. Termasuk semua warga di Kabupaten Sukabumi. Namun yang terpenting, bagaimana cara menghadapi masalah itu.

Apakah mau dengan cara menunggu pertolongan orang lain, atau kita kembali kepada diri kita untuk menggali pontensi yang ada. Ini yang ingin saya sampaikan untuk masyarakat agar bersama-sama bisa menggali potensi yang ada. Jangan menunggu tangan orang, karena berubah itu dari diri kita bukan karena orang lain,” ucapnya.

Fenoma kehidupan kedua anak yatim piatu ini, perlu kita ambil gambaran, dalam pembangunan di Kabupaten Sukabumi. Kita tidak cukup bergantung kepada bantuan pemerintah, tetapi lebih kepada ada niatan untuk mandiri dan bangkit bersama-sama menciptakan perubahan.

Pemerintah memberikan bantuan harusnya dijadikan modal, bukan dijadikan keuntungan. Dengan itu, pembangunan juga akan segera cepat terjadi. Kalau hanya mengandalkan pemerintah saja, pada akhirnya pembangunan akan berjalan lambat.

“Saya ingin sampaikan, membangun itu perlu adanya perubahan sudut pandang di masyarakat. Kenapa demikian, karena yang selama ini masyarakat mengharapkan bantuan dan bantuan. Sementara ketika sudah turun, dianggapnya warisan, itu salah kaprah. Harusnya ketika turun, kita jaga dan dijadikan modal.

Semisal diberikan batuan pembangunan jalan, kita rawat dan jaga dengan sukarela agar tidak cepat rusak. Tentunya bantuan-bantuan lain juga harusnya seperti itu. Jadi lebih kepada meningkatkan rasa kesadaran memiliki, bukan berfikiran tahun depan akan mendapatkan lagi. Itu harusnya kualitas berfikir masyarakat yang perlu ditingkatkan,” bebernya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, sebuah gagasan yang dirinya jalankan lebih kepada program wakaf Alquran dengan diisi santunan anak yatim piatu salah satunya untuk meningkatkan kesadaran tersebut.

Dimana budaya baca, faham dan amal untuk dijalankan bukan hanya sebatas gagasan. Ketika, masyarakat sudah bisa membaca kemudian memahami dan kemudian mengamalkan, itu kunci keberhasilan dalam pembangunan yang sebenarnya.

“Jadi gini, jangan hanya berbicara pembangunan-pembangunan belum merata, faham soal pembangunan juga tidak. Apalagi mau mengamalkannya. Pelajari dulu soal pembangunan, kemudian sudah faham dilakukan.

Salahnya orang yang tidak memiliki kapasitas soal pembangunan berbicara pembangunan ya salah, harusnya berdiskusi gagasan tersebut, lihat kedalam apakah diri sendiri sudah bisa membangun kesadaran apakah belum, jika belum benahi diri sendiri dulu baru berbicara kepada orang lain.

Orang lain jelas sudah menjalankan, ini baru punya gagasan saja sudah berbicara sudah seperti sudah melakuklan, “tuturnya.

Untuk itu, pemikiran-pemikiran yang seperti ini membuat dirinya memberanikan diri untuk mengabdi kepada Kabupaten Sukabumi, meski saat ini baru ikhtiar politik, tentunya ketika pilihan sudah ditentukan maka dirinya tidak akan pernah mundur.

“Saya katakan tadi, jika pilihan sudah ditentukan maka tidak ada kata mundur. Karena hidup dua pilihan, apalagi pilihan yang saya pilih jalannya benar, maka akan ada pertolongan yang tidak akan diduga-duga, “terang orang yang diketahui mendaftar di Partai Gerindra sebagai kandidat calon wakil bupati tersebut.

Untuk diketahui, berdasarkan hasil survei sementara Ade Dasep mendapatkan respon yang baik dianggka 24 persen. Sementara untuk petahana Bupati Marwan Hamami angkanya mencapai 15 persen, itu artinya naik 3 persen dari minggu sebelumnya.

Untuk Petahana Wakil Bupati Adjo Sardjono masih di angka 10 persen. Sofyan Effendi baru mendapatkan voting 10 Persen, disusul oleh MU Sobandie 6 Persen, Anjak Priatna 2 Persen. Untuk Nama Reni Marlinawati 1 persen dan Iman Adinugaraha angkanya 0 persen, Totong Suparman 1 Persen, hal itu sama dengan Ketua DPRD Yudha yang baru mendapatkan respon 2 persen. Terkahir untuk Hendra Hidayatullah angkanya 23 persen. (hnd)

[IT_EPOLL id="125086"][/IT_EPOLL]

 

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button