KABUPATEN SUKABUMI

7 Kecamatan Mulai Krisis Air Bersih

SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com- Tujuh kecamatan di Kabupaten Sukabumi teridentifikasi krisis air bersih. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi memprediksi, krisis air bersih ini akan meluas ke kecamatan lainnya. Mengingat sumber air dimusim kemarau ini sudah mulai mengering.

Kepala Pusat Pengendalian Operasi BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna mengatakan, tujuh kecamatan yang krisis air bersih itu ialah Kecamatan Cidadap, Gegerbitung, Tegalbuleud, Waluran, Cikembar, Gunungguruh dan Kecamatan Cicurug. “Tujuh kecamatan ini sudah masuk laporannya kepada kami. Sebagian sudah kami tindaklanjuti,” kata Daeng kepada Radar Sukabumi, kemarin (11/7).

Untuk meringankan beban warga yang kesulitan air bersih, lanjut Daeng, BPBD sudah menyalurkan air bersih kepada warga yang benar-benar kesulitan air bersih. Seperti diantaranya Desa Cijurey, Kecamatan Gegerbitung yang ratusan warganya kesulitan mendapatkan air bersih. Bahkan mereka harus berjalan hingga beberapa kilometer untuk mendapatkan air bersih. Sumur milik warga sudah kering, meskipun ada airnya kondisinya keruh dan mengeluarkan bau sehingga tidak bisa digunakan. “Atas pengajuan dari pemerintah kecamatan, kami mengirimkan bantuan air bersih ke daerah tersebut,” tandasnya.

Daeng menambahkan, untuk menyalurkan air bersih, pihaknya menyiagakan enam unit truk tanki berkapasitas 5.000 liter baik milik BPBD maupun Palang Merah Indonesia (PMI). “Untuk pipanisasi kami masih berkoordinasi dengan instansi lainnya, sebab pemasangannya harus ada sumber air dahulu dan disesuaikan dengan kebutuhan warga,” ucapnya.

Di sisi lain, hingga kini ia masih menunggu Pemerintah Provinsi Jawa Barat menetapkan status tanggap darurat bencana krisis air bersih. Biasanya setelah ada penetapan, kepala daerah di tingkat kabupaten segera menyesuaikan dengan menetapkan status tersebut. Namun BPBD Kabupaten Sukabumi tetap melakukan penanggulangan dan memberikan bantuan kepada warga yang mengalami kesulitan air bersih. “Karena sampai saat ini masih menunggu penetapan status tanggap darurat dari Pemprov Jabar,” ulasnya.

Sementara itu, Kamat Cicurug, Wawan Godawan mengaku, sejauh ini pihaknya belum menerima laporan secara tertulis dari masyarakat yang kesulitan air bersih. “Hanya laporan secara lisan saja, seperti Desa Mekarsari yang sudah mulai mengalami kelangkaan,” ucapnya.

Wawan meminta, apabila masyarkaat mengalami kesulitan air bersih, bisa segera melaporkannya secara tertulis agar ia dapat segera mengajukannya kepada instansi terkait. “Kalau sudah ada laporan tertulisnya, kami tinggal melaporkannya langsung ke BPBD agar segera mendapatkan bantuan,” pungkasnya. (bam/d)

Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button