“Selama ini proses lelang, penentuan pemenang dan start pelaksanaan awal pembangunan itu selalu semesteer kedua (tahun anggaran berjalan). Sehingga ini sangat berpotensi memicu keterlambatan,” katanya.
Padahal, tender seharusnya dilakukan pada awal tahun, sehingga jangka waktu leluasa agar semua proyek fisik bisa maksimal dan selesai sebelum akhir tahun.
Ia juga mengakui hingga saat ini sangat sulit mendapati pekerjaan fisik infrastruktur yang diproses tender sejak awal tahun.
“Ya harus dicari pangkal masalahnya. Kalau administrasi sebetulnya nggak bisa jadi alasan,” imbuh politisi PKS itu.
Atang pun mencontohkan pada proyek lanjutan revitalisasi Masjid Agung yang terbengkalai hampir tujuh tahun lamanya dan selalu dianggarkan tiap tahun untuk penyelesaian sesuai Detail Engineering Design (DED)-nya. Namun, tahun ini baru terlaksana di semester kedua.
Politisi PKS itu menilai hal ini sudah menjadi kultur di Pemkot Bogor untuk menunda pekerjaan fisik di semester kedua tahun anggaran berjalan.
“Saya sih melihat ini kultur kerja yang memang terbiasa menunda pekerjaan. Kita tidak berharap ini terjadi. Di hulu selesaikan, tapi pelaksanaan harus terus dipantau dan diawasi juga secara periodik,” tukasnya. (ded)
Editor : Yosep






