Featured

Zehan Nurhadzar, Perempuan Indonesia yang Pelopori Sajian Kopi Racikan Khusus di Argentina

×

Zehan Nurhadzar, Perempuan Indonesia yang Pelopori Sajian Kopi Racikan Khusus di Argentina

Sebarkan artikel ini
FOTO : JUNEKA/JAWAPOS RACIKAN KOPI: Zehan Nurhadzar (tengah) dan dua barista yang bekerja di Lattente, Buenos Aires.

Ada rak panjang tiga tingkat menempel di dinding paling selatan yang berisi jajaran buku berbagai genre. Di antaranya A Sport and a Pastime oleh James Salter dan Paradigms: The Business of Discovering thr Future oleh Joel Arthur Barker. Di rak itu juga nyempil buku Coffee United Brewing for Harmony yang diterbitkan Kementerian Pariwisata melalui label Wonderful Indonesia. Rak itu juga menyimpan banyak pernak-pernik suvenir Lattente. Dari kaus hingga buku kecil.

Sore kian beranjak saat satu seduhan kopi Kolombia datang. Diseduh dengan metode dari Jepang, Hario Vi sesenta atau V60. Zehan menuangkan sedikit pada gelas dan meminta saya mencicipi. Tanpa gula. Rasanya agak asam. Tidak terasa seperti kopi tubruk. ”Lebih kayak teh, terbuka rasanya,” kata Zehan membantu menerangkan rasanya.

Bank bjb Tandamata

Berikutnya menyusul kopi asal Guatemala. Dan kemudian kopi Toraja. Yang dari Guatemala aromanya lebih seperti buah dengan rasa yang tak terlalu asam. Sedangkan yang dari Toraja terasa agak berbau tanah dan sedikit pahit. Kopi dari Indonesia, meski sudah banyak yang mendunia, tak selalu tersedia di Lattente. Kecuali saat ada staf KBRI atau teman Zehan yang membawakan.

Zehan mengaku sebenarnya ingin lebih sering menghadirkan kopi dari tanah air. Tapi, untuk saat ini biaya impor kopi Indonesia ke Argentina masih sangat mahal jika dibandingkan dengan mengimpor dari Kolombia dan Guatemala. Tapi, pernah pula Zehan membawa kopi luwak yang dijual per cangkirnya USD 40.

Kopi memang passion Zehan. Dia sanggup menjelaskan dengan detail perihal kopi dan bagaimana ia dibuat dengan semua kerja keras petani dan teknik yang konsisten. Kopi bukan sekadar kopi. Tapi punya cerita yang begitu kompleks dan panjang.

Penjelasan semacam itu kadang membuat orang tak nyaman. Terutama di masa-masa awal Lattente buka pada 2011. Apalagi, harganya juga tergolong mahal. Jadilah tak sedikit tamu yang tak datang lagi. Tapi, lebih banyak yang terkesima dan kembali. ”Dua puluh persen tak kembali, 80 persen jadi pelanggan setia. Orang ke sini karena mereka ingin minum good coffee,” kata Zehan.