Sedangkan kondisi di kawaaan pemandian Cipanas Cisolok terlihat asri, bersih dan indah. Meski kunjungan ke lokasi primadona itu terlihat membludak. “Tiga tahun lalu, lokasi Cipanas ini juga sampahnya tidak terurus. Wisatawan buang sampah sembarangan dan seakan dibiarkan tak ada yang menegurnya. Makanya sampahnya berserakan. Kalau tahun ini Alhamdulillah ya, ada kemajuan. Sangat bersih apalagi di sungainya,” kata pengunjung, Sarah Mei Lani kepada Radar Sukabumi.
Ia berharap, pemerintah bisa menularkan sistem yang sudah dilakukan di kawasan Cipanas ke kawasan lain soal kebersihannya. Meskipun di Cipanas masih terdapat retribusi ganda antara retribusi tolgate Cipanas berdasarkan Perda nomor 14/2013 dengan retribusi parkir yang dipungut Karang Taruna Desa Wangunsari, Kecamatan Cisolok. “Padahal kan dalam retribusi wisata itu termasuk biaya parkir dan asuransi,” katanya.
Koordinator tolgate Wisata Pemandian Cipanas Cisolok, Febby Marwan juga membenarkan jika di lokasi itu terdapat retribusi ganda. “Kalau di tolgate wisata dasarnya Perda, kalau parkir itu Karang Taruna. Tapi Alhamdulillah, kalau soal kebersihan sudah ada peningkatan,” ucapnya.
Kondisi berserakan sampah-sampah itu menjadi ladang rezeki bagi para pemulung rongsokan atau barang bekas. Seperti Imran (9), warga Citepus Girang, Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu. Pelajar kelas III Madrasah Ibtidaiyyah Citepus itu memanfaatkan waktu luang dan waktu liburnya untuk mengais rezeki dengan memungut sampah-sampah yang masih memiliki nilai jual, seperti botol air dan kardus. “Hasilnya dikasih ke bapak. Kalau sekolah saya cukup dengan uang jajan Rp 5 ribu sama bapak. Ya buat bantu-bantu bapak,” ucapnya dengan nada polos. (*)



