Monica Soraya Hariyanto, Ibu dengan 9 Bayi Adopsi

  • Whatsapp
Monica Soraya Hariyanto, Ibu dengan Sembilan Bayi Adopsi

RADARSUKABUMI.com – Monica Soraya Hariyanto tak mau anak-anak yang dia adopsi kehilangan hubungan dengan orang tua biologis. Ketika kali pertama dikontak ibu hamil yang berharap bayinya diadopsi, dia merasa itulah jalan yang digariskan untuknya.

DEBORA DANISA SITANGGANG, Jakarta

TANPA kehadiran anggota keluarga tambahan pun sebenarnya rumah Monica Soraya Hariyanto sudah ramai. Dia punya empat anak, tiga di antaranya masih tinggal bersamanya.

Otomatis dengan kehadiran enam bayi yang diadopsi perempuan 41 tahun itu, kediamannya di Cilandak, Jakarta Selatan, semakin riuh rendah. Monica mengadopsi bayi-bayi tersebut sejak Maret 2020.

Semuanya bayi baru lahir. Yang pertama diberi nama Bianca Calista Prameswari, lahir 18 Maret. Menyusul kemudian Tristan Naraya Abimanyu, Scarlet Alexandra Kamaniya, Syeikha Abriana Resyakila, Dallas Arsyanendra Bagaspati, dan Beverly Kanisya Mikandira.

Nama-nama itu diberikan Monica melalui diskusi bersama suami dan anak-anaknya. ’’Saya paling suka memberi nama yang ada bau-bau Sanskerta-nya,’’ ungkap Monica ketika dihubungi Jawa Pos Jumat pekan lalu (21/8).

Nama depan merupakan hasil rembukan bersama keluarga, sedangkan nama tengah dan belakang diberi Monica sendiri. Selain enam bayi itu, Monica juga berencana menyambut tiga bayi lagi.

Dua sudah lahir Agustus dan baru tiba dalam pekan ini di rumah Monica. Satu lagi diperkirakan lahir akhir bulan ini. Jadi, total dia ketambahan 9 buah hati. ’’Selama saya ada rezeki, mau 12 (anak) pun tidak apa-apa,’’ tuturnya.

Bisa dibilang bayi-bayi itu tidak dicari Monica, tetapi datang sendiri. Berawal ketika pendiri Organisasi Kemasyarakatan Bidadari Indonesia itu mendapat WhatsApp dari seorang ibu yang tak disebutkan namanya.

Ibu tersebut bertanya apakah Monica bersedia mengadopsi anak. Pada titik itu, Monica merasa bahwa semua sudah jalan dari Sang Pencipta sehingga entah bagaimana dirinya percaya pada ibu itu dan membalas pesannya.

Dari situ, beberapa ibu lain juga menghubungi Monica hingga total ada enam orang. Ibu pertama dia telepon. Saat itu usia kandungannya sudah tujuh bulan. ’’Jadi, saya mengurus bayi-bayi ini sejak dalam kandungan,’’ katanya.

Monica membantu mulai pemeriksaan kandungan hingga biaya persalinan. Latar belakang orang-orang yang menghubunginya memang rata-rata hampir sama: mengalami kesulitan ekonomi.

Ada pula yang ditinggal ayah sang bayi. Ada yang hamil di bawah umur, namun untuk menggugurkan pun tak punya biaya. ’’Mereka justru nggak terlalu banyak meyakinkan saya sih,’’ lanjutnya.

Begitu si bayi lahir, orang tuanya langsung menyerahkan ke Monica. Bayi-bayi itu lantas masuk ke kartu keluarga Monica. Namun, aktanya tetap atas nama sang ibu kandung.

’’Ada dari mereka yang tidak peduli lagi sama anaknya. Akta sama saya aja. Tapi saya bilang, saya mengurus mereka sampai sukses, tapi bukan saya yang melahirkan ke dunia,’’ tutur istri Hariyanto Duryat tersebut.

Suaminya yang berprofesi pengusaha itu termasuk sangat suportif, sepenuhnya mendukung keinginan Monica. Perempuan berdarah Madura-Manado itu pun punya cita-cita mendirikan panti asuhan.

Namun, untuk saat ini, karena merasa belum betul-betul mampu, Monica mengadopsi beberapa bayi dulu ke keluarganya. ’’Saya ingin menjadi satu bagian dari kehidupan anak-anak ini dan memperlakukan mereka seperti anak saya sendiri,’’ katanya.

Ketika menyambut kelahiran bayi-bayi itu ke dunia pun, Monica tak begitu canggung. Dia malah bersemangat menyiapkan berbagai perlengkapan untuk bayi-bayi tersebut. Membuat boks tidur, baju, dan mainan.

Benar-benar seperti mau punya anak lagi. Dan, dia bersyukur. Meski orang tua bayi-bayi itu berkekurangan, semua lahir dalam keadaan sehat dan lucu-lucu. Monica tentu tak mengurus bayi-bayi itu sendirian. Masing-masing bayi memiliki seorang babysitter.

’’Saya pribadi terakhir mengurus bayi sudah tujuh tahun lalu,’’ ujar Monica merujuk pada anaknya yang terakhir.

Monica tetap turun tangan mengurus bayi-bayi tersebut meski tidak 24 jam. Dari pengalamannya itu, Monica juga semakin mendapat banyak permintaan orang tua yang ingin menitipkan bayinya. Terkadang dia sampai menerima 20–25 pesan dari ibu-ibu dalam kondisi hamil.

Ada juga orang tua yang mungkin belum memiliki momongan meski sudah menikah bertahun-tahun. Dan, akhirnya tertarik mengadopsi bayi yang saat ini dia rawat. Namun, tentu dia tidak bisa menerima semuanya sekaligus. Tidak bisa juga kalau dia tiba-tiba menyerahkan anak yang sudah diadopsinya ke orang lain.

Karena itu, Monica kembali pada keinginannya sejak lama untuk mendirikan panti asuhan. ’’Alangkah baiknya kalau saya punya panti, karena kebetulan saya punya yayasan sosial juga,’’ tuturnya.

Jika punya panti asuhan, lanjut dia, akan semakin mudah menjembatani antara orang tua yang tak sanggup merawat bayi dan orang tua yang ingin merawat bayi. Untuk hal ini, Monica bakal menetapkan syarat-syarat tertentu.

Dia harus melihat langsung rumah orang yang ingin mengadopsi dan memastikan mereka punya pekerjaan tetap. Dengan begitu, kehidupan anak-anak bisa terjamin.

Satu prinsip Monica saat mengadopsi bayi-bayi itu adalah memastikan mereka tetap punya hubungan dengan orang tua biologisnya. ’’Saya nggak mau membuat anak-anak ini benci ke orang tuanya. Saya harus menjaga perasaan anak-anak ini,’’ katanya.

Kelak dia akan menyampaikan bahwa ibu-ibu kandung mereka punya keberanian yang luar biasa. ’’Sampai bisa melahirkan mereka ke dunia,’’ ujarnya. (*/c19/ttg)

Pos terkait

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *