Masfiyah, Salah Seorang Peserta Pelatihan Wirausaha Gakin yang Sukses

  • Whatsapp

Usaha rempeyek buatan Masfiyah cukup moncer. Hasil produksinya diminati banyak kantor pemerintahan. Mulai kelurahan, kecamatan, DPRD, hingga gubernuran. Sepuluh persen hasilnya selalu disisihkan untuk kegiatan sosial.

PUJI TYASARI

TUMPUKAN stoples bertutup biru tertata rapi di sudut rumah Bun da Syifa, sapaan Masfiyah, di kawasan Jalan Johar. Stoplesberisi rempeyek kacang itu merupakan stok. Jika sewaktu-waktu ada pembeli, langsung diantar.”Saya buat tiap Sabtu dan Minggu,”ujarnya kemarin (22/8).Syifa menyebut, rempeyeknya memang dibuat setiap pekan. Produksinya mencapai 50 stoples. Syifa membuatnya bersama Suhariati dan Kodiyah, tetangga sekaligus rekan kerjanya.

Ibu tiga anak itu cukup diuntungkan dengan posisinya sebagai pekerja sosial masyarakat (PSM). Sebagai pekerja sosial,dia aktif berkoordinasi dengan berbagai satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Dari sanalah, Syifa menawarkan barang dagangannya. ”Awalnya ke teman, lalu getok tular. Meski tidak ada tempat jualan, kami tetap berdaya,” ujarnya.

Kini produknya mampir di banyak tempat. Mulai dari kelurahan, kecamatan, dinas PU binamarga dan pematusan, dinas sosial,DPRD Surabaya, gubernuran, hingga banyak instansi lain. Selain untuk dikonsumsi pribadi, rempeyeknya dibikin untuk suvenir
dan oleh-oleh.

Keberhasilan Syifa tidak terlepas dari peran Emi Saraswati, penyuluh lapangan keluarga berencana di Kecamatan Bubutan. Saat itu, pada 2010, sebagai warga keluarga miskin, Syifa diajak ikut pelatihan UKM dari Badan Pemberdayaan Masyarakat

(Bapemas) dan KB Kota Surabaya. Institusi itu kini bernama dinas pengendalian penduduk, pemberdayaan perempuan, danperlindungan anak (DP5A). Syifa masuk dalam Kelompok Swadaya Masyarakat Aroma. ”Dari situ lalu dikembangkan. Sekarang bisa menunjang ekonomi,” katanya.

Kini omzetnya mencapai Rp 3 juta per minggu. Dia sudah mengantongi surat izin usaha produksi (SIUP). Syifa berusaha menjaga kualitas. Caranya tidak menggunakan minyak curah. Juga hanya sekali pakai. ”Bahan-bahannya saya pilih yang bagus.

Kalau rempeyek teri, ya teri yang bagus. Ebi, kacang yang bagus. Kebersihan pun dijaga,” tuturnya.Banyak dipesan sebagai oleh-oleh, produk rempeyek buatannya menjangkau sampai luar Surabaya. Di antaranya, ke Jakarta, Palembang, bahkan Malaysia. Selain rempeyek, dia menyediakan pesanan nasi kotak, kembang goyang, kue basah, dan kue moci.

Syifa juga dikenal berjiwa sosial. Dia tidak segan turun tangan membantu warga yang membutuhkan. Meski perempuan yang baru saja berduka atas kematian ibu dan suaminya itu tergolong warga kurang mampu. Salah satunya menyisihkan 10 persen keuntungannya untuk kepentingan sosial.

 

(c6/eko)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *