Kampanye Kesehatan Mental ala Mahasiswa Visual Communication Design UC

  • Whatsapp

Komik Digital agar Yang Depresi Tak Merasa Sendiri

Zaman modern memberikan tekanan mental yang tidak sedikit bagi manusia. Empat mahasiswa Visual Communication Design Universitas Ciputra (UC) membuat komik digital untuk mereka yang mengalami gangguan mental.

MARIYAMA DINA

SIANG itu ruang studio mahasiswa visual communication design Universitas Ciputra (UC) di lantai 5 terlihat sibuk. Meski tidak ada kelas, berbagai kegiatan dilangsungkan di sana. Begitu juga Livia Angelica, Samantha Teonata, dan Michelle Jasmine.

Satu orang lagi, Daniel, berhalangan hadir. Mereka adalah orang di balik terbitnya Petualangan Menuju Sesuatu, sebuah komik digital tentang isu kesehatan mental yang berplatform di Instagram.

Ketiganya memanfaatkan waktu longgar tersebut untuk membuat episode baru komik digital mereka. Mulai memikirkan cerita, menggambar sketsa, sampai mewarnai dilakukan bersama.

Komik yang diluncurkan pada 28 Juni itu pun kini memiliki 6.940 pengikut. Bagi mereka, komik digital merupakan media yang pas untuk kampanye soal kesehatan mental. Terutama untuk generasi milenial.

Segmen yang disasar empat mahasiswa tersebut. Dengan karakter utama sebuah gumpalan transparan berwarna oranye, mereka membuat cerita-cerita tentang kesehatan mental yang sebenarnya sangat dekat dengan lingkungan sekitar.

“Nah, akhirnya kepikiran kenapa nggak buat komik aja sambil kampanye,’’ ungkapnya. Dari ide itu, mereka tidak pernah berpikir akan diundang menjadi pembicara dalam acara 24 Hours Talk Show di Jakarta Oktober lalu.

’’Pas itu kami diundang sama platform curhat dan konsultasi online bersama psikolog, ibunda.id, pas peringatan World Mental Health Day.

Bener-bener ada talk show selama 24 jam yang disiarin online. Nah, kami jadi pembicara terakhiryang ngisi pukul 23.00–24.00,’’ ujar Samantha tentang undangan untuk menceritakan komik mereka itu.

Bahkan, mereka pernah ditawari salah satu penerbit untuk menerbitkan komiknya versi buku. Maksud komik Petualangan
Menuju Sesuatu adalah sebuah petualangan untuk mencari jati diri.

’’Jadi, karakter utama yang kami sebut Blob sedang mencari jati dirinya lewat problem-problem sosial yang memang sangat dekat dengan lingkungan sekitar,’’ ucap Samantha. Terutama problem yang memang sering dialami orang pada fase remaja akhir.

Kesehatan mental pun menjadi isu utama Petualangan Menuju Sesuatu. Mereka menganggap masalah mental seperti depresi kurang
diperhatikan. Padahal, yang mengalaminya sangat banyak.

’’Banyak di antara mereka yang sebenarnya depresi malu untuk meminta pertolongan,’’ tambahnya. Dari situ, cerita-cerita yang dibuat benar-benar ingin menyadarkan para pembaca sekaligus menghapus stigma bahwa menderita depresi tidak berarti gila.

’’It’s okay not being okay. Kalian itu nggak sendiri. Tapi, kalian juga butuh untuk bangkit. Cara pertamanya ya harus cerita dan minta pertolongan,’’ tambah Livia.

Dia juga menambahkan, tujuan komik tersebut sendiri memang untuk mengampanyekan kesehatan mental, mengajak orangorang

yang mempunyai kesulitan, bahkan yang sedang mengalami depresi untuk lebih terbuka, serta mau bercerita untuk mencari pertolongan dan sesuatu dalam kehidupan lewat masalah-masalah yang pernah dihadapi.

Tentu, kolom komentar pun menjadi ajang diskusi tersendiri. Misalnya, cerita dalam episode ke-99. Dalam episode tersebut, Blob dan orang-orang terlihat tengah memakai topeng dengan gambar wajah tersenyum.

Episode itu dibumbui kalimat seperti terkadang aku memakai topeng karena aku tinggal di dunia yang tidak nyaman dengan kesedihan.

’’Nah, pesannya di sini kami sebenarnya sudah lelah dengan topeng ini karena harus berpura-pura bahagia. Lalu, kapan topeng tersebut bisa dibuka bersama,’’ jelasnya.

Dalam kolom komentar pun banyak yang merasa sedang mengalami masalah tersebut. Yakni, pura-pura bahagia. Dari situ bisa dikatakan bahwa para pencari, sebutan untuk follower mereka, menyambut positif komik itu. ’’Sampai banyak yang ngirim

direct message juga ngasih ucapan terima kasih. Kayak makasih ya kalian udah bikin cerita kayak gini.

Ini bener-bener apa yang sedang aku rasain sekarang,’’ ungkap Michelle. Dari situ, banyak di antaranya yang bercerita bahwa mereka ternyata tidak sendiri.

Tiap hari mereka mempunyai deadline untuk mengunggah satu cerita setiap pukul 20.00. ’’Kalau yang paling susah memang mencari idenya sih,’’ paparnya.

Livia mengatakan, kalau sudah bun tu , dirinya dan teman-temannya biasa mencari ide-ide lewat konsultasi dengan do se n
psikologi, sampai dari perbincangan sehari-hari.

 

(*/c15/ano)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *