Activist of Education (Action), Gerakan Mahasiswa Sidoarjo Mengajar

  • Whatsapp

Menerima Anak Putus Sekolah yang Mau Belajar

Mahasiswa tidak hanya berkutat dengan diktat. Banyak kegiatan bermanfaat yang bisa dilakukan para mahasiswa.

Bacaan Lainnya

Salah satunya
kegiatan anggota Activist Education (Action) yang bertujuan untuk mengajari siswa di Kota Delta dengan sukarela.

MAYA APRILIANI

HARI sudah malam. Tapi, suasana Balai Desa Sidokepung pada Minggu (18/11) itu masih ramai. Lebih dari 30 anak berada di balai desa. Mereka tidak berkumpul di satu tempat. Tapi, berpencar membentuk kelompok kecil.

Setidaknya ada lima kelompok anak-anak dengan beragam usia. Laki-laki dan perempuan. Dalam kelompok berbeda itu, anak-anak yang sebagian besar siswa SD tersebut tengah mengerjakan sesuatu.

Ada yang mewarnai gambar. Ada juga yang mengerjakan soal. Beberapa di antaranya tengah bercanda. Bahkan, ada anak-anak yang berlarian di dalam balai desa.

Di setiap kelompok ada dua orang dewasa. Tugasnya mengajari anak-anak. Merekalah anggota Action. Tiap akhir pekan, para pemuda yang berstatus mahasiswa itu bersua dengan ”anak didiknya”.

Salah satunya adalah Asyharina Maghfiroh. Gadis 21 tahun itu mengarahkan anak-anak mewarnai gambar. Sesekali dia menjawab

pertanyaan anak-anak soal pemilihan warna yang pas. Anak-anak langsung kembali berkutat dengan alat pewarna. Hingga ada salah seorang siswa yang mewarnai sambil tengkurap di lantai balai desa.
”Tinggal ini,” kata Aura De shinta Azari sambil ndlosor di ubin.

Siswa kelas III SDN Sidokepung Iitu mengaku aktif mengikuti kegiatan belajar di balai desa. Bocah 9 tahun itu mengaku senang belajar ramai-ramai. Dibimbing para mahasiswa.

Tak hanya menggambar, dia juga bisa bertanya tentang pelajaran lainnya. ”Senang belajar di sini,” ucapnya. Hal yang sama dirasakan temannya, Nikmatul Maulidia.

Karena itu, dua karib tersebut tak pernah melewatkan jadwal belajar bersama dengan tim Action setiap pekan.
Asyharina menyatakan, kegiatannya bersama tim berlangsung setiap Jumat sampai Minggu. Mulai pukul 18.00 hingga 20.00.

Ada empat wilayah yang disasar. Yakni, Candi, Porong, Buduran, dan Sekardangan.
”Malam ini kegiatannya untuk seleksi delegasi lomba Hari Guru Nasional,” kata perempuan yang didapuk sebagai ketua umum Action itu.

Menurut dia, Action merupakan pergerakan mahasiswa dalam bidang pendidikan, seperti gerakan Indonesia Mengajar. Tapi, skalanya hanya di Kota Delta.

Gerakan itu didirikan pada September 2015 oleh Muhammad Adzif Novebry dan Ainur Rofiq. Caranya terjun langsung ke ma syarakat dan belajar di berbagai lingkungan sosial. Juga membantu masyarakat kurang
mampu.

”Action percaya bahwa pendidikan dan pengajaran dapat memperbaiki masyarakat dan kondisi bangsa,” ucapnya.

Itu sesuai dengan moto dan prinsip. Yakni, berdedikasi untuk bangsa dan Tri Jiwa Action atau biasa dikenal dengan KPK (Keikhlasan, Pengabdian, Kemanfaatan). Karena itu, tim tidak mendapat imbalan setelah mengajar.

”Saat ini Action masih di bawah naungan BEM FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Umsida,” ucap mahasiswa FKIP
Prodi PGSD Umsida itu.

Namun, anggota tim Action bukan hanya mahasiswa FKIP. Banyak juga yang berasal dari fakultas lain. Misalnya, teknik in formatika, teknik elektro, pertanian, dan hukum. Bah kan, ada yang dari kampus di luar Umsida.

Bahkan, tim Action
me nerima dengan tangan terbuka anak-anak putus sekolah yang ingin belajar dengan mereka. (*/c6/ai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *