SUKABUMI — Di sebuah gang sempit Kampung Cihelang Hilir, Desa Cihelang Tonggoh, Kecamatan Cibadak, suara riuh pegawai terdengar dari balik rumah produksi sederhana. Mereka sedang melakukan siaran langsung di TikTok, menawarkan bola voli dan bola sepak dengan brand lokal bernama Adici. Di balik layar, sosok Asep Suhendar (35) tersenyum bangga melihat produk karyanya kini dikenal luas.
Perjalanan usaha ini dimulai pada 2018, ketika Asep masih bekerja di sebuah pabrik baju. Hobinya menjahit bola membuatnya berani mencoba produksi sendiri. “Awalnya hanya hobi, tidak menyangka bisa jadi usaha. Pinjaman pertama dari KUR BRI Rp5 juta, lalu dipercaya lagi Rp100 juta dengan cicilan tiga tahun,” kenangnya.
Kini, usaha yang dirintis dari nol itu berkembang pesat. Omzet harian bisa mencapai Rp3 juta hingga Rp15 juta, bahkan kadang Rp12 juta dalam sehari. Penjualan dilakukan hampir seluruhnya secara online. “Saya live di tiga sampai empat akun TikTok, sehari bisa enam jam. Pelanggan online mencapai 200 orang per hari,” jelasnya.
Produk bola Adici dijual dengan harga bervariasi. Bola berbahan impor yang dipress dijual Rp275 ribu, sementara bola lokal produksi sendiri Rp90 ribu. Pesanan datang dari berbagai daerah, mulai dari Bogor, Riau, Bali, NTT, hingga luar negeri seperti Malaysia dan Filipina. “Intinya dari Sabang sampai Merauke sudah ada yang pesan,” kata Asep.

Dari awal hanya tiga pekerja, kini Adici mempekerjakan 22 orang, sebagian besar warga kampung sekitar. “Alhamdulillah bisa menggerakkan warga. Ada yang bagian menjahit, ada yang bagian pemasaran,” ujarnya. Selain bisnis, Asep juga rutin menyumbang untuk anak yatim dan masjid, menjadikan usaha ini bukan hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga memberi manfaat sosial.
Tantangan tetap ada. Produk Adici kadang dilaporkan pesaing hingga terkena banned di platform online. “Produk yang lagi laris bisa tiba-tiba dilaporkan orang. Itu tantangan di dunia digital,” katanya. Namun, Asep tidak menyerah. Ia berencana membuat website sendiri agar penjualan lebih stabil dan harga bisa lebih fleksibel.
Sementara itu, Eki Dyata Fredi Setiawan, Pemimpin Cabang KC BRI Cibadak, menilai kisah Asep sebagai bukti nyata bagaimana UMKM bisa tumbuh besar dengan dukungan permodalan. “Asep Suhendar adalah contoh bagaimana keberanian, kreativitas, dan dukungan KUR BRI mampu melahirkan brand lokal yang berdaya saing nasional. Dari gang sempit, bola Adici kini menembus pasar Indonesia bahkan luar negeri,” ujarnya.
Menurut Eki, keberhasilan Adici menunjukkan bahwa BRI bukan sekadar bank, melainkan mitra perjalanan hidup. “Pinjaman KUR bukan hanya angka, tetapi energi yang menggerakkan ekonomi lokal. Ketika usaha seperti Adici berkembang, dampaknya terasa pada keluarga, masyarakat sekitar, bahkan dunia olahraga,” tambahnya.
Ia menekankan bahwa BRI Cibadak berkomitmen mendampingi UMKM agar mampu beradaptasi dengan era digital. “Kami mendorong mitra usaha untuk memanfaatkan teknologi. Asep sudah membuktikan bahwa live streaming bisa menjadi strategi pemasaran efektif. Ke depan, kami ingin lebih banyak UMKM yang berani masuk ke ranah digital,” jelasnya.
Menutup komentarnya, Eki menyampaikan harapan agar kisah Adici menjadi inspirasi. “Kami ingin lebih banyak brand lokal lahir dari desa-desa. Karena ketika UMKM maju, masyarakat ikut maju, dan BRI pun ikut maju.”pungkasnya. (*)



