“Seharusnya pemerintah harus permudah impor biji kakao, karena nantinya hasil olahan biji kakao impor akan kembali kita ekspor. Ini sangat mendukung program Presiden Jokowi untuk tingkatkan ekspor, karena 80 persen hasil olahan biji kakao untuk diekspor,” tuturnya.
Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen Kementan Risfaheri mengatakan, pemerintah saat ini masih fokus meningkatkan produksi pangan. Sementara komoditas perkebunan seperti kakao belum mendapat perhatian khusus.
“Memang konsentrasi terbesar Kementerian Pertanian untuk pangan. Bukan tidak ada (prioritas untuk kakao). Tapi yang terbesar saat ini untuk pangan,” ujar Risfaheri.
Menurutnya, penurunan produksi terjadi karena banyak tanaman kakao yang sudah tua dan tidak produktif, sehingga hasil panen sedikit. “Banyak tanaman kakao kita sudah tua. Proses peremajaannya kurang maksimal ya,” ungkapnya.
Gerakan Nasional (Gernas) Kakao yang dicanangkan pemerintah beberapa tahun lalu juga diakui Risfaheri tidak terlalu berhasil. “Memang kemarin ada program Gernas Kakao tapi tidak maksimal kelihatannya. Kita mengharapkan ada peningkatan ternyata tidak,” ujar Risfaheri.
Meski demikian Risfaheri mengatakan pemerintah tetap melakukan Gernas Kakao. “Hanya saja program ini memang bukan prioritas utama pemerintah,” tukasnya.(rmol)



